I Kadek Dwi Purwana Yasa, seorang atlet berusia 18 tahun, telah mengukir prestasi gemilang di Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026. Dalam kompetisi yang berlangsung di Stadion Paloma Mizuho, Nagoya, Jepang, pada Selasa (20/10/2026), Kadek berhasil menyumbangkan medali emas bagi Indonesia di cabang lempar cakram klasifikasi F57. Ia mencatatkan lemparan sejauh 48,68 meter, yang merupakan rekor dunia yang ia raih sebelumnya di Kejuaraan Dunia Meksiko pada 22 Juli 2026.
Walaupun sudah memegang rekor dunia, Kadek tetap fokus dan berusaha tampil tanpa beban. Ia membuka pertandingan dengan lemparan pertama sejauh 46,79 meter, lalu meningkatkan catatannya menjadi 47,17 meter pada percobaan kedua. Puncak penampilannya terjadi pada lemparan ketiga, di mana ia berhasil melampaui rekor dunianya sendiri dengan jarak 49,75 meter.
Perjalanan Menuju Prestasi
Perjalanan Kadek untuk meraih medali emas tidaklah mudah. Ia memulai karier atletiknya sejak duduk di bangku SMP, di mana ia mulai berlatih secara serius saat memasuki kelas X SMA. "Dulu itu aku masih belajar seperti orang biasa. Waktu aku kelas sembilan itu, mulai-mulai aku menginjakkan kaki di atletik kelas sembilan, naiklah ke kelas sepuluh itu, mulai aku latihan," ujar Kadek saat ditemui di Solo pada Selasa (27/10/2026).
Keseriusan Kadek membuahkan hasil saat ia mengikuti kejuaraan pertamanya di Peparpenas Palembang 2023. Setelah itu, ia mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan Sekolah Khusus Olahraga Disabilitas Indonesia (SKODI) di Solo. "Event pertama aku di Peparpenas Palembang 2023. Setelah itu aku kepanggil SKODI, panggil selama dua tahunan," tambahnya. Selama dua tahun berlatih di SKODI, ia dipanggil untuk mengikuti pelatnas ASEAN Para Games 2026 di Thailand, dan mulai rutin berkompetisi di kejuaraan internasional hingga mencapai Asian Para Games.
Pengorbanan dan Tekad yang Kuat
Kadek juga menceritakan tantangan emosional yang dihadapinya, terutama ketika harus meninggalkan keluarga demi mengejar cita-citanya sebagai atlet. Sebelum berangkat ke Jepang, ia mengalami kehilangan besar dengan meninggalnya ayahnya. "Waktu bulan kemarin ayahku meninggal, itu moodku hancur, mentalku berantakan, tapi waktu balik lagi ke sini semua tertata lagi," ungkapnya.
Meski menghadapi kesedihan, tekad Kadek untuk terus berjuang lebih besar daripada ujian yang ia hadapi. Ia menyadari bahwa di usianya yang masih muda, banyak teman-temannya yang lebih memilih bersenang-senang, sementara ia telah memilih untuk mengejar prestasi. "Tinggalin orang tua itu sangat berat di usia yang muda ini. Karena di usia aku itu semuanya pada bermain, pada mencari hobinya masing-masing lah. Sedangkan aku sudah harus mengejar prestasi," tuturnya.