Meskipun Christo Popov dan Alex Lanier dari Prancis telah menunjukkan kemampuan untuk bersaing dengan pemain-pemain terbaik, Ong Ewe Hock mengungkapkan bahwa konsistensi masih menjadi hambatan terakhir sebelum mereka bisa merebut posisi teratas. Ewe Hock, yang merupakan mantan pemain andalan nasional, percaya bahwa tunggal putra bulu tangkis sedang mengalami perubahan generasi, di mana pemain muda yang berani kini mampu menantang para bintang yang sudah mapan.
Kejuaraan Dunia BWF 2026 yang akan berlangsung di New Delhi dari tanggal 17 hingga 23 Agustus diharapkan dapat menjadi indikator jelas mengenai pergeseran generasi ini, dengan banyaknya pemain muda yang siap mengancam dominasi para senior. "Saat ini kami berada di tengah perpaduan antara generasi yang lebih tua dan yang lebih muda," ujar Ewe Hock. "Para pemain muda ini kuat, tetapi mereka masih perlu lebih stabil. Performa mereka belum konsisten; terkadang mereka sangat bagus dan terkadang tidak."
Pemain Muda yang Menjanjikan
Ewe Hock menambahkan, "Mereka butuh waktu untuk mematangkan permainan mereka, tetapi mereka memiliki kemampuan untuk menang." Di antara pemain muda yang menjanjikan terdapat Christo Popov, Alex Lanier, Victor Lai dari Kanada, dan Alwi Farhan dari Indonesia, yang semuanya telah menunjukkan potensi sebagai ancaman nyata bagi para pesaing yang lebih berpengalaman. Khususnya, Christo Popov telah membangun momentum yang mengesankan setelah meraih kemenangan di World Tour Finals tahun lalu, membantu Prancis meraih medali perak di Piala Thomas pada bulan Mei, dan menjuarai Japan Open bulan lalu.
Victor Lai juga mencuri perhatian di Kejuaraan Dunia tahun lalu di Paris, di mana ia berhasil meraih medali perunggu, dan telah memperkuat posisinya musim ini dengan mencapai tiga semifinal Super 1000 dan memenangkan Indonesia Open. Ewe Hock menegaskan bahwa Popov dan Lanier bisa memberikan kejutan besar di New Delhi jika mereka mampu mempertahankan performa terbaik mereka dalam turnamen ini. "Popov dan Lanier adalah dua pemain yang saya lihat sedang dalam performa terbaik dan menunjukkan peningkatan yang signifikan," ungkap Ewe Hock. "Dalam bulu tangkis, ketika para pemain sudah berada pada level yang kurang lebih sama, Anda harus memperhatikan kondisi mereka dan apakah mereka dalam performa terbaik. Jika mereka dalam performa puncak, mereka menjadi sangat berbahaya."
Pesaing Utama dan Kesenjangan yang Menyempit
Namun, Ewe Hock tetap menganggap juara bertahan Shi Yu Qi sebagai tolok ukur. Meskipun hanya memenangkan Kejuaraan Bulu Tangkis Asia musim ini, Yu Qi telah berulang kali meningkatkan level permainannya di turnamen besar dan memimpin tim China meraih gelar Piala Thomas. "Saya rasa Yu Qi masih menjadi favorit karena dia stabil," kata Ewe Hock. Selain itu, juara dunia 2023 asal Thailand, Kunlavut Vitidsarn, juga tetap menjadi kandidat meskipun performanya musim ini tidak konsisten. Vitidsarn memiliki catatan yang mengesankan di kejuaraan-kejuaraan besar, setelah mencapai final di tiga Kejuaraan Dunia terakhir serta Olimpiade Paris.
Nama-nama berpengalaman lainnya seperti Anders Antonsen dari Denmark dan veteran Taiwan Chou Tien Chen juga masih menjadi pesaing di antara generasi baru ini. Namun, menurut Ewe Hock, kesenjangan antara generasi tersebut telah menyempit secara signifikan. "Para pemain muda sudah memiliki standar yang tinggi," ujarnya. "Mereka sudah berada di sana. Jika mereka bisa konsisten, mereka juga punya peluang untuk menang."