Jorge Lorenzo kembali membagikan kisah mengenai perpisahannya dengan Ducati yang terjadi setelah MotoGP 2018. Mantan juara dunia ini mengklaim bahwa Ducati hanya memberikan tawaran kontrak dengan pemotongan gaji yang sangat signifikan, mencapai 90 persen, sebuah kondisi yang membuatnya merasa tidak lagi dihargai oleh tim-tim papan atas.
Perjalanan Lorenzo bersama Ducati berakhir jauh dari ekspektasi. Setelah bergabung pada MotoGP 2017 sebagai salah satu pebalap terbaik di dunia, ia hanya mampu bertahan selama dua musim sebelum memutuskan untuk pindah ke Honda pada 2019. Lorenzo datang ke Ducati setelah berhasil meraih tiga gelar juara dunia MotoGP bersama Yamaha pada tahun 2010, 2012, dan 2015. Namun, musim pertamanya di Ducati sangat menantang karena ia tidak berhasil meraih kemenangan.
Kondisi Membaik di Musim Kedua
Situasi mulai menunjukkan perbaikan pada tahun 2018. Lorenzo berhasil memenangkan tiga balapan, tetapi hanya mampu menempati posisi kesembilan di klasemen akhir akibat berbagai masalah yang mengganggu performanya sepanjang musim. Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Fast & Curious, Lorenzo mengungkapkan bahwa ia sebenarnya ingin melanjutkan kariernya bersama Ducati. Ia percaya bahwa dengan sedikit kesabaran dari tim asal Bologna tersebut, ia bisa meraih lebih banyak gelar.
"Jika Ducati sedikit lebih sabar dan memperbarui kontrak saya, saya pasti akan terus membalap selama tiga tahun lagi dan mungkin memiliki beberapa gelar tambahan," ujar Lorenzo. Namun, harapan untuk perpanjangan kontrak tidak terwujud. Lorenzo mengklaim bahwa tawaran yang diberikan Ducati jauh lebih rendah dibandingkan kontrak sebelumnya.
Perubahan Karier yang Drastis
"Ducati, yang sebelumnya memberikan kontrak terbesar dalam sejarah MotoGP hingga saat itu, bahkan tidak menawarkan sepersepuluh dari nilai tersebut," katanya. Keadaan ini membuat Lorenzo kehilangan kepercayaan diri. Ia kemudian memilih untuk bergabung dengan Honda pada tahun 2019, tetapi musim tersebut menjadi salah satu periode terburuk dalam kariernya yang berujung pada keputusan untuk pensiun.
Lorenzo mengungkapkan bahwa kondisi mentalnya saat itu sangat sulit, karena untuk pertama kalinya ia merasa tidak diinginkan oleh tim-tim besar. "Ini sulit, dan mungkin itu pertama kalinya dalam hidup saya ketika saya berada dalam kondisi depresi, atau setidaknya sangat dekat dengan itu," ungkapnya. Ia menambahkan bahwa sebelumnya Yamaha dan tim papan atas lainnya selalu menunjukkan minat untuk merekrutnya. Namun, setelah meninggalkan Ducati, situasinya berubah drastis.
Yamaha bahkan tidak memiliki tempat di tim pabrikan untuknya, sehingga Lorenzo harus mempertimbangkan opsi bergabung dengan tim satelit Petronas. Ia mengaku tidak ingin mengambil pilihan tersebut dan akhirnya menghadapi masa-masa sulit dalam kariernya. Meski demikian, Lorenzo tetap merasa beruntung atas perjalanan karier yang telah dilaluinya. Tiga gelar MotoGP menjadi bukti bahwa kegagalannya bersama Ducati tidak menghapus statusnya sebagai salah satu pebalap terbaik di generasinya.