Francesco Bagnaia tengah mengalami masa sulit bersama tim Ducati, tetapi sifat sensitifnya yang sering kali dikritik ternyata dianggap sebagai salah satu kelebihannya. Jonas Torstensson, bos Ohlins, menyatakan bahwa kemampuan Bagnaia dalam membaca perilaku motor menjadi aset penting dalam pengembangan Ducati.
Performa Bagnaia menjadi sorotan setelah ia kesulitan mempertahankan hasil terbaiknya dalam dua musim terakhir. Sejak kedatangan Marc Marquez ke tim pabrikan Ducati pada tahun 2025, Bagnaia mengalami kesulitan untuk bersaing dengan rekan setimnya. Hal ini membuat banyak pihak menilai bahwa pembalap asal Italia ini terlalu sensitif terhadap perubahan karakter motor yang dia kendarai.
Sensitivitas Sebagai Kelebihan
Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya disetujui oleh Torstensson. General Manager Ohlins ini justru melihat sensitivitas Bagnaia sebagai salah satu kekuatannya. Ohlins, yang telah menjalin kerjasama panjang dengan Ducati sejak tim ini berpartisipasi di MotoGP pada tahun 2003, menilai bahwa kemampuan Bagnaia untuk merasakan perubahan kecil pada motor sangat membantu para teknisi dalam melakukan pengujian.
"Menjadi yang paling sensitif bisa menjadi hal positif, tetapi juga negatif," ungkap Torstensson kepada MARCA. "Sebagai contoh, Anda mungkin membaca di sejumlah media bahwa Pecco dikritik karena sangat sensitif. Namun, dari sudut pandang saya, dia adalah pembalap yang sangat hebat."
Umpan Balik yang Berharga
Torstensson menjelaskan bahwa Bagnaia mampu memberikan informasi yang sangat detail ketika mencoba komponen atau pengaturan baru pada motornya. "Ketika kami menguji sesuatu bersamanya, dia benar-benar tahu bagaimana menjelaskan apa yang dia rasakan dan umpan baliknya sangat bagus," tambahnya.
Walaupun demikian, Torstensson mengakui bahwa sifat sensitif ini juga memiliki konsekuensi. Bagnaia memerlukan pengaturan motor yang tepat agar dapat tampil dengan maksimal. "Memang benar dia juga sensitif dalam hal lain. Dia perlu mengatur motor dengan tepat untuk bisa melaju cepat. Sebagai seorang insinyur, untuk pengujian, itu adalah hal yang sangat bagus," jelasnya.
Sebelumnya, Bagnaia menikmati kesuksesan bersama Ducati dengan meraih gelar MotoGP pada tahun 2022 dan 2023. Namun, performanya menurun pada tahun 2025, di mana ia hanya mampu finis di posisi kelima dalam klasemen. Salah satu faktor yang banyak dibahas adalah kesulitan Bagnaia beradaptasi dengan perubahan pada Ducati GP25, termasuk sistem suspensi dan perangkat ride height.
Ohlins bahkan diketahui bekerja sama secara khusus dengan Ducati untuk mengembangkan perangkat suspensi rahasia bernama SLD 76 untuk GP25. Saat ini, Francesco Bagnaia masih berusaha untuk mengembalikan performa terbaiknya sebelum meninggalkan Ducati dan bergabung dengan Aprilia pada tahun 2027.