Samuel Antuna, dokter yang menangani cedera bahu Marc Marquez, mengungkapkan kebingungannya mengenai kemampuan sang pembalap untuk meraih kemenangan di tengah kondisi fisiknya yang tidak optimal. Antuna menilai bahwa cedera yang dialami Marquez seharusnya membuat banyak pembalap lain memilih untuk pensiun.
Marc Marquez kembali menunjukkan mentalitas yang luar biasa meskipun kondisi fisiknya belum sepenuhnya pulih. Pembalap dari tim Ducati ini masih merasakan dampak dari cedera serius pada lengan kanannya, namun tetap mampu bersaing di posisi terdepan dalam MotoGP 2026. Cedera tersebut terjadi setelah ia terlibat kecelakaan dengan Marco Bezzecchi pada MotoGP Indonesia tahun lalu, yang mengharuskannya menjalani operasi untuk menstabilkan patah tulang dan memperbaiki ligamen bahunya.
Kondisi Cedera yang Mengkhawatirkan
Beberapa bulan setelah operasi pertama, Marquez kembali menghadapi masalah. Pada bulan Mei, ia harus menjalani operasi kedua karena salah satu sekrup di lengannya bergeser dan menekan saraf radial, yang mengakibatkan penurunan kekuatan pada lengan kanannya. Meskipun belum sepenuhnya pulih dari cedera tersebut, Marquez berhasil memenangkan empat dari enam Grand Prix terakhirnya. Kemenangannya di MotoGP Aragon membuat jarak dengan Jorge Martin dalam perebutan gelar semakin menyusut menjadi 19 poin.
Pujian untuk Mentalitas Marquez
Samuel Antuna, yang merupakan dokter bedah Marquez, menyatakan bahwa kondisi fisik Marquez sulit dipahami dari sudut pandang medis. "Yang bisa saya katakan adalah lengan itu sangat terbatas kekuatannya, terutama pada otot bisep. Saya rasa ungkapan Marc bahwa dia saat ini membalap dengan satu setengah lengan benar-benar menggambarkan kondisi lengan kanannya," ungkap Antuna.
Antuna juga memberikan pujian terhadap sikap Marquez selama proses pemulihan. Ia menilai bahwa juara dunia tujuh kali tersebut tidak pernah menjadikan kondisinya sebagai alasan untuk mengeluh. "Marc adalah panutan yang luar biasa bagi anak-anak muda. Mereka bisa melihat bagaimana dia bekerja tanpa mengeluh, baik di depan publik maupun secara pribadi. Saya sendiri menjadi saksi dari hal tersebut," tambahnya.
Kondisi fisik yang dialami Marquez memaksanya untuk mengubah pendekatannya dalam persaingan gelar. Ia kini tidak bisa memaksakan diri di setiap sesi dan harus lebih bijaksana dalam memilih momen untuk menyerang, terutama di sirkuit yang membutuhkan tenaga ekstra dari lengan kanannya. Meskipun demikian, performanya tetap mengesankan. Setelah meraih 11 kemenangan dari 18 Grand Prix dan 14 kemenangan Sprint pada tahun 2025 sebelum mengalami cedera di Mandalika, Marquez masih memiliki peluang besar untuk mempertahankan gelarnya meskipun belum kembali ke kondisi terbaiknya.