KOMPAS.com - Sebuah insiden menarik perhatian saat Rahmat Erwin Abdullah, lifter dari Indonesia, berdiri di podium setelah menerima medali emas di nomor angkat besi 75 kg. Pada Sabtu (26/9/2026), Rahmat berhasil mengangkat total 366 kilogram, dengan rincian 160 kilogram di snatch dan 206 kilogram di clean and jerk, dalam ajang yang berlangsung di Nagoya City Trade.
Keberhasilannya mengalahkan Ri Chong-song dari Korea Utara, yang hanya mampu mengangkat 357 kilogram (162 kg snatch dan 195 kg clean and jerk), tidak hanya memastikan medali emas bagi Rahmat, tetapi juga memecahkan rekor dunia untuk total angkatan serta clean and jerk di kelas 75 kg. Momen yang menjadi perbincangan terjadi setelah prosesi pemberian medali, ketika seorang ofisial tim memberikan bendera Merah Putih kepada Rahmat.
Insiden Pengambilan Bendera
Rahmat sempat membentangkan bendera tersebut, namun seorang panitia berpakaian biru segera mengambilnya sambil meminta maaf. Meskipun demikian, Rahmat terlihat tersenyum dan tidak menunjukkan protes saat meninggalkan panggung, bahkan ia turut memberikan gestur meminta maaf dengan tangannya. Tindakan panitia tersebut mengikuti aturan dari IWF (Federasi Angkat Besi Internasional) yang melarang peraih medali membawa bendera ke atas panggung.
Aturan tersebut tercantum dalam poin kedua pasal 6.9 mengenai Seremoni Kemenangan, yang menyatakan bahwa seluruh peraih medali dan pejabat yang terlibat dalam upacara harus berbaris tanpa membawa bendera atau benda lain. "Para peraih medali dilarang membawa bendera atau benda lain apa pun ke atas panggung selama upacara penyerahan medali berlangsung," demikian bunyi regulasi tersebut.
Alasan di Balik Regulasi
Regulasi ini berbeda dengan beberapa cabang olahraga lain, di mana atlet sering kali merayakan kemenangan dengan bendera negara mereka. Namun, IWF memiliki alasan tersendiri untuk menerapkan aturan ini. Keputusan tersebut dipicu oleh insiden pembakaran bendera Azerbaijan saat seremoni pembukaan Kejuaraan Angkat Besi Eropa di Yerevan, Armenia, pada April 2023. Video insiden tersebut menunjukkan seorang individu mengambil bendera Azerbaijan dan membakarnya, yang kemudian menjadi viral dan dianggap sebagai serangan terhadap integritas olahraga.
Sebagai respons, kontingen Azerbaijan menarik diri dari turnamen dan meninggalkan Armenia. Dalam Kongres Federasi Angkat Besi Asia, Presiden IWF, Mohamed Jalood, menyatakan, "Kami adalah cabang olahraga; kami melambangkan perdamaian, bukan perkelahian ataupun perdebatan mengenai siapa yang terbaik." Ia menambahkan bahwa insiden di Yerevan menjadi pertimbangan dalam pembahasan mengenai larangan tersebut.
Sejak saat itu, meskipun bendera para pemenang tetap ditampilkan selama upacara penyerahan medali, hal ini hanya dilakukan dalam bentuk gambar di layar, dan bukan lagi dipegang langsung oleh para atlet.