Jakarta - Pilates sering kali dipandang sebagai olahraga yang lebih dikhususkan untuk kalangan menengah ke atas. Namun, sebenarnya metode ini memiliki peranan penting bagi atlet serta penggiat olahraga. Popularitas Pilates semakin meningkat dalam diskusi mengenai kebugaran dan gaya hidup sehat, tetapi masih banyak orang yang belum sepenuhnya memahami konsep dasar Pilates. Beberapa orang menganggapnya hanya sebagai olahraga peregangan, bagian dari rehabilitasi, atau latihan dengan intensitas yang rendah. Ada juga yang merasa bingung dengan alat Reformer yang dilengkapi dengan carriage, pegas, dan straps yang merupakan komponen penting dalam pengalaman Pilates modern.
Mengubah Stigma tentang Pilates
Stigma ini berusaha diubah oleh Camila Arreaga, seorang pelatih Pilates, yang mengajak masyarakat untuk mengenal Pilates dari dasar, termasuk fungsi Reformer, perbedaannya dengan Mat Pilates dan yoga, serta alasan mengapa metode yang telah ada lebih dari seratus tahun ini tetap relevan hingga kini. "Pilates bukan hanya soal stretching atau melatih core. Ini adalah metode latihan yang mengajarkan tubuh untuk bergerak dengan kontrol dan tujuan, bukan sekadar mengandalkan momentum," ungkap Camila, yang menjabat sebagai Head Coach di VAURA Pilates Menteng.
Dia melanjutkan, "Dalam setiap gerakan, kita belajar menghubungkan napas, posisi tubuh, dan tenaga secara bersamaan. Jadi yang dilatih bukan hanya satu otot, tetapi bagaimana tubuh bekerja sebagai satu kesatuan." Pilates sendiri diciptakan oleh Joseph Pilates lebih dari seratus tahun yang lalu melalui metode yang ia sebut Contrology. Sejak awal, prinsip-prinsipnya berfokus pada kontrol, presisi, napas, dan hubungan antara pikiran dan tubuh.
Fungsi Reformer dalam Pilates
Peralatan berbasis pegas yang berkembang seiring dengan metode tersebut menjadi dasar bagi berbagai apparatus Pilates yang kita kenal saat ini, termasuk Reformer. Hingga saat ini, fondasi tersebut tetap menjadi elemen penting dalam Pilates modern. Meskipun terlihat kompleks bagi pemula, fungsi Reformer sebenarnya cukup sederhana: membantu tubuh bergerak dengan lebih terarah. Pegas pada Reformer dapat memberikan dukungan sekaligus resistensi, tergantung pada gerakan, posisi tubuh, dan arah geraknya.
Camila menjelaskan, "Dalam satu latihan, pegas bisa membantu menopang tubuh sehingga kita dapat lebih fokus pada kualitas gerakan. Di latihan lain, tegangan yang sama justru menjadi resistensi yang harus kita kontrol." Karena carriage terus bergerak, tubuh juga harus mengontrol gerakan saat mendorong maupun saat kembali ke posisi awal. Inilah yang membuat Reformer Pilates sering terlihat lebih ringan daripada kenyataannya. "Orang melihat gerakannya yang perlahan dan terkontrol lalu mengira mudah. Padahal justru karena gerakannya lambat dan penuh kontrol, latihannya terasa menantang. Kita tidak bisa bersembunyi di balik momentum," tambah Camila.
Pelengkap untuk Berbagai Jenis Olahraga
Menurut Camila, Pilates tidak perlu menggantikan olahraga yang sudah disukai seseorang. Sebaliknya, Pilates dapat menjadi pelengkap bagi pelari, pengangkat beban, pemain golf, atlet olahraga raket, penari, serta mereka yang rutin berlatih di gym. Misalnya, pelari yang terbiasa bergerak ke arah depan dapat menemukan tantangan baru ketika Pilates memperkenalkan gerakan rotasi dan lateral. Mereka yang terbiasa mengangkat beban juga sering terkejut ketika diminta bergerak secara presisi tanpa mengandalkan beban berat. Sementara itu, olahraga seperti golf dan olahraga raket memiliki pola rotasi berulang yang dapat dilengkapi dengan latihan kontrol dan keseimbangan tubuh.
Camila menekankan, "Pilates memang memiliki peran dalam rehabilitasi, dan tentu ada unsur stretching di dalamnya. Tetapi jika Pilates hanya dipahami sebatas itu, kita kehilangan gambaran besarnya. Ini adalah metode latihan yang juga membutuhkan kekuatan, koordinasi, dan kontrol."
Menanggapi Persepsi dan Stereotip
Popularitas Pilates di media sosial juga telah menciptakan anggapan bahwa olahraga ini hanya cocok untuk kelompok tertentu. Camila menyatakan bahwa persepsi tersebut lebih banyak muncul dari bagaimana Pilates terlihat dari luar dibandingkan dengan apa yang sebenarnya terjadi selama latihan. "Saya justru lebih suka jika seseorang datang dengan anggapan bahwa Pilates akan mudah, lalu keluar dari kelas dengan rasa terkejut, daripada mereka merasa Pilates bukan untuk mereka dan akhirnya tidak pernah mencoba," ujarnya.
Metode Pilates dapat diterapkan pada berbagai usia dan latar belakang kebugaran. Bagi peserta yang lebih muda, fokusnya mungkin pada performa dan kekuatan. Sementara itu, bagi kelompok usia yang lebih matang, manfaat latihan dapat bergeser pada kemampuan menjaga keseimbangan, kontrol sendi, dan kemandirian dalam bergerak. Dengan pendampingan yang tepat, remaja pun dapat mulai mengenal body awareness, alignment, napas, dan kontrol sejak dini.
Akhirnya, Camila berharap semakin banyak orang yang melihat Pilates bukan berdasarkan stereotip, tetapi dari apa yang benar-benar dirasakan tubuh ketika mencobanya. "Saya ingin orang memahami bahwa Pilates itu benar-benar menantang, cerdas, dan bisa menjadi milik siapa saja, apapun bentuk tubuh atau latar belakang kebugarannya. Setelah satu kelas, saya ingin mereka pulang dengan pemahaman baru tentang apa arti kekuatan inti dan kontrol yang sebenarnya," tutupnya.