Max Shulga, seorang point guard asal Ukraina, tampaknya akan menjadi rekrutan keempat untuk Real Madrid Basketball setelah sebelumnya klub tersebut mendatangkan Jaime Pradilla, Mikael Jantunen, dan Timothé Luwawu-Cabarrot. Rekrutmen ini dianggap strategis mengingat latar belakang pendidikan Shulga yang telah dilalui di Colegio Leonés dan Torrelodones, dua institusi yang dikenal dalam pengembangan bakat bola basket.
Setelah kepergian Mario Hezonja, Real Madrid menghadapi tantangan terkait kuota pemain. Tim harus memiliki minimal empat pemain yang terlatih dalam bola basket Spanyol dari total dua belas pemain. Meskipun mereka sudah memenuhi syarat dengan pemain seperti Sergio Llull, Alberto Abalde, Jaime Pradilla, Edy Tavares, dan Usman Garuba, cedera yang dialami Tavares membuat situasi ini menjadi lebih rumit. Oleh karena itu, klub perlu mencari pemain baru yang sesuai dengan kriteria ini, dan pilihan jatuh kepada Max Shulga.
Pindah ke Amerika dan Karir di NBA
Shulga sebelumnya bermain di Spanyol sebelum pindah ke Amerika Serikat untuk bergabung dengan Utah State University. Namun, ia tidak bertahan lama di sana dan setahun kemudian pindah ke VCU di bawah bimbingan pelatih Ryan Odom. Meskipun sempat diperkirakan akan melanjutkan karirnya di Villanova, ia akhirnya memilih untuk melanjutkan di Virginia.
Pada tahun 2025, Shulga direkrut oleh Orlando Magic dengan pilihan ke-57, meskipun haknya kemudian berpindah ke Boston Celtics, di mana ia menandatangani kontrak ganda. Di musim lalu, ia tampil dalam 11 pertandingan bersama Celtics dan dua pertandingan di babak playoff, meskipun kontribusinya terbatas dengan rata-rata 3,3 menit bermain, mencetak 0,6 poin dan memberikan 0,2 assist. Namun, di G-League bersama Maine Celtics, ia menunjukkan performa yang lebih baik dengan rata-rata 15,7 poin dan 6,7 assist dalam lebih dari 33 menit di lapangan. Shulga juga baru saja meraih gelar juara Las Vegas Summer League bersama Golden State Warriors.
Masalah Sanksi dan Transfer ke Eropa
Pengalaman Shulga di bola basket Eropa akan menjadi yang pertama, meskipun ia harus menyelesaikan beberapa masalah kecil terlebih dahulu. Pada tahun 2024, FIBA memberikan sanksi kepadanya karena utang kepada agensi perwakilannya, Sigma SRL, terkait operasi yang hampir membawanya ke Villanova. Meskipun operasi tersebut tidak terwujud, ia diwajibkan membayar biaya yang ditetapkan sekitar 180.000 dolar, yang belum dilunasinya. Akibatnya, meskipun ia dapat bermain di NBA dan G-League, transfernya ke bola basket FIBA terhambat.