Bagi banyak anak, bulu tangkis dimulai dengan pengenalan yang sederhana terhadap olahraga ini, memberikan mereka kesempatan untuk memegang raket, belajar hal baru, dan bersenang-senang bersama teman-teman. Hal ini menjadi fokus dari Badan Bulu Tangkis Dunia (BWF) dalam sebuah acara yang berlangsung di Universitas Manajemen dan Teknologi Tunku Abdul Rahman (TARUMT) di Malaysia pada tanggal 27 Juni 2026, menjelang perayaan Hari Bulu Tangkis Sedunia. Sebanyak 71 anak mengikuti kegiatan belajar, berpartisipasi, dan bersenang-senang dalam suasana yang mendukung.
Acara ini didukung oleh pelatih dan sukarelawan bersertifikat dari program Shuttle Time, yang memperkenalkan dasar-dasar bulu tangkis kepada peserta muda dari berbagai panti asuhan dalam lingkungan yang ramah. Kegiatan ini dirancang untuk mendorong kepercayaan diri dan keterlibatan anak-anak. Meskipun beberapa anak memiliki pengalaman sebelumnya, bagi banyak dari mereka, ini adalah pengalaman pertama yang berarti dalam olahraga ini.
Pemimpin Kegiatan dan Antusiasme yang Tinggi
Kegiatan ini dipimpin oleh Kingsley Mah Wei Yi, yang bertanggung jawab atas koordinasi lapangan, pengaturan pemimpin stasiun, serta memberikan pengarahan kepada pengasuh dan peserta mengenai prosedur keselamatan dan program hari itu. Mah, yang menggambarkan dirinya sebagai pemain rekreasi yang berhenti bermain secara teratur setelah mengalami cedera di masa sekolah, tetap memiliki antusiasme yang kuat terhadap bulu tangkis. Menurutnya, menjadi sukarelawan memberinya kesempatan untuk berbagi kecintaan terhadap olahraga ini. “Setiap kali saya melihat wajah-wajah bahagia mereka, saya merasa lega. Itu sebenarnya mengingatkan saya pada kecintaan saya pada bulu tangkis ketika saya masih muda,” ujarnya.
Ng Shue Er juga berperan sebagai pemimpin kelompok dan berinteraksi langsung dengan anak-anak melalui berbagai kegiatan dan latihan berbasis keterampilan. Sebagai mantan pemain tingkat sekolah, Ng merasa lebih nyaman membimbing anak-anak setelah sebelumnya menjadi sukarelawan di Shuttle Time. “Saat mereka beralih dari tidak tahu cara melakukan sesuatu menjadi mengerti dan menikmatinya, itu adalah momen terbaik bagi saya,” katanya.
Membangun Keterampilan dan Kepercayaan Diri
Selama program, peserta mempelajari dasar-dasar bulu tangkis yang penting, termasuk cara memegang raket, servis, dan teknik pukulan dasar. Sesi-sesi tersebut menggabungkan demonstrasi, aktivitas latihan, dan permainan untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak-anak dari berbagai kemampuan. Namun, bagi para pelatih, hasil yang paling berarti adalah melihat kepercayaan diri anak-anak tumbuh seiring dengan pemahaman mereka tentang olahraga tersebut. Ng mengamati perubahan yang signifikan sepanjang hari itu. “Di pagi hari, sebagian dari mereka cukup pendiam dan tidak terlalu bersemangat. Saat mereka mulai bermain dan lebih terlibat, mereka menjadi lebih aktif dan nyaman di lingkungan tersebut,” jelasnya.
Salah satu peserta, Rini, yang berusia 18 tahun, mengungkapkan, “Bulutangkis membuat saya merasa luar biasa. Olahraga ini memberi orang kesempatan tidak hanya untuk bermain bersama tetapi juga untuk mempererat ikatan satu sama lain.” Selain memperkenalkan keterampilan bulu tangkis, kegiatan ini juga menyoroti manfaat olahraga secara umum. Melalui permainan terstruktur dan partisipasi kelompok, anak-anak didorong untuk berkomunikasi, saling mendukung, dan menantang diri mereka dalam lingkungan yang positif.
Mah menekankan pentingnya pendekatan yang sabar dalam melatih anak-anak. “Tidak semua orang sempurna, terutama anak-anak. Mereka selalu belajar, jadi lebih baik melakukan semuanya perlahan dan membangun secara bertahap. Cobalah untuk tidak terlalu memaksa anak-anak,” tuturnya. Komentar ini mencerminkan filosofi kepelatihan yang berfokus pada kesabaran dan dorongan, terutama ketika bekerja dengan peserta muda yang masih dalam tahap perkembangan fisik dan emosional.