Logo
Berita Olahraga

Pertumbuhan Ekosistem Bulutangkis di Luar Jawa Terus Berlanjut

Persaingan untuk meraih Super Tiket dalam Audisi Umum PB Djarum 2026 di Pekanbaru semakin ketat, menunjukkan perkembangan positif ekosistem bulutangkis di luar Pulau Jawa.

S
Surya Kirana
12 July 2026 28 pembaca
Ray Ethan Jourell tampil impresif di babak perempatfinal. (Foto: dok. PB Djarum)
Ray Ethan Jourell tampil impresif di babak perempatfinal. (Foto: dok. PB Djarum)

Jakarta - Kompetisi untuk mendapatkan enam Super Tiket pada Audisi Umum PB Djarum 2026 di Pekanbaru semakin memanas. Yuni Kartika, yang merupakan bagian dari Tim Pencari Bakat PB Djarum, mengungkapkan bahwa ekosistem bulutangkis di luar Pulau Jawa terus menunjukkan pertumbuhan yang baik.

"Kami cukup gembira melihat ekosistem bulutangkis masih tetap berjalan dengan baik di luar Jawa. Poin utamanya adalah bagaimana potensi-potensi yang ada di daerah tetap menjadi incaran bagi kami," jelas Yuni dalam keterangan persnya.

Ajang Pencarian Bakat di Pekanbaru

Audisi ini berlangsung di GOR Angkasa, Pekanbaru, Riau, di mana ratusan atlet muda berkesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka demi meraih Super Tiket di kategori U-11, KU-11, dan KU-12 untuk putra dan putri pada tanggal 8 hingga 12 Juli 2026.

"Ini sangat positif bagi bulutangkis Indonesia karena menunjukkan bahwa semangat melahirkan atlet baru tidak pernah padam meski audisi di pulau-pulau lain seperti Sumatra dan Sulawesi sempat terhenti dalam beberapa tahun terakhir," tambah Yuni.

Menilai Talenta Atlet Muda

Dalam proses pemantauan talenta, Yuni, yang juga merupakan peraih medali perak di Asian Games 1994 di Hiroshima, mencatat bahwa masih terdapat banyak aspek dasar yang perlu diperbaiki oleh para atlet putri. Ia memberikan penghargaan kepada beberapa klub di luar Jawa yang telah menerapkan standar pelatihan dasar yang baik.

"Untuk kategori putri, saya melihat ada tiga hal yang membuat seorang anak terlihat istimewa, yaitu footwork yang efektif, bakat membidik titik pukul yang pas, serta kemandirian karakter di lapangan," ungkapnya.

"Kami mencari anak yang tidak terus-menerus menengok ke pelatihnya, tapi tahu kapan dia salah dan tahu hal yang harus dilakukan saat menghadapi lawan yang lebih besar atau lebih kecil. Karakter atau kemandirian seperti ini sangat kami nilai," Yuni menjelaskan.

Artikel Terkait