Bergabungnya Shakur Stevenson, juara dunia yang telah meraih gelar di empat divisi, dengan Zuffa Boxing menjadi salah satu langkah penting dalam sejarah promotor tersebut. Namun, hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan Zuffa Boxing untuk memenuhi keinginan Stevenson dalam menghadapi petinju-petinju terbaik di dunia.
Stevenson telah resmi menandatangani kontrak multi-pertandingan dengan promotor yang dipimpin oleh CEO UFC, Dana White. Kontrak yang bernilai tinggi ini membuat petinju berusia 29 tahun tersebut yakin bahwa ia dapat melanjutkan kariernya dengan menghadapi pertarungan-pertarungan besar. "Saya tidak akan menandatangani kontrak jika tidak bisa mendapatkan pertarungan yang saya inginkan. Saya ingin menghadapi lawan terbaik dan menjalani pertarungan terbesar. Itulah alasan saya berada di olahraga ini," ungkap Shakur Stevenson.
Ambisi dan Tantangan di Zuffa Boxing
Pernyataan Stevenson menarik perhatian karena berbeda dengan pola yang selama ini diterapkan oleh Zuffa Boxing. Sejak didirikan, petinju-petinju di bawah naungan Zuffa Boxing hanya bertanding satu sama lain, tanpa adanya kolaborasi dengan promotor lain untuk menggelar pertandingan lintas organisasi. Jika Stevenson benar-benar ingin melawan petinju-petinji elite, Zuffa Boxing harus membuka kesempatan untuk bernegosiasi dengan promotor lain. Namun, langkah ini tidaklah mudah, mengingat hubungan Dana White dengan beberapa promotor besar, seperti Oscar De La Hoya dari Golden Boy Promotions dan Eddie Hearn dari Matchroom Boxing, sering kali diwarnai perbedaan pendapat.
Walaupun demikian, perekrutan Stevenson dapat meningkatkan kredibilitas Zuffa Boxing sebagai pemain baru di dunia tinju. Dengan statusnya sebagai pemegang sabuk juara WBO di kelas welter ringan, ia diperkirakan dapat menarik lebih banyak petinju papan atas untuk bergabung dengan promotor tersebut.
Gaya Bertarung dan Pertarungan yang Diharapkan
Di sisi lain, gaya bertarung Stevenson juga menjadi tantangan tersendiri. Ia dikenal sebagai petinju dengan kemampuan bertahan dan teknik yang sangat baik, tetapi penampilannya sering kali dianggap kurang menarik bagi penonton yang lebih menyukai pertarungan penuh aksi. Hal ini terlihat ketika ia mendominasi Teofimo Lopez pada bulan Januari lalu untuk merebut gelar WBO kelas welter ringan. Meskipun meraih kemenangan telak, penampilannya lebih diapresiasi oleh penggemar tinju yang menyukai teknik dibandingkan dengan penonton yang mengharapkan knockout.
Stevenson juga menegaskan bahwa ia tidak tertarik untuk menghadapi sesama petinju Zuffa Boxing, seperti Jose Valenzuela, yang sebelumnya sempat menantangnya. Ia lebih memilih untuk menantang juara dunia kelas welter Devin Haney atau Gervonta Davis, dua nama yang telah lama dikaitkan dengannya. Selain itu, Stevenson juga menghadapi ketidakpastian mengenai kelas bertanding, karena saat ini ia memegang sabuk WBO kelas welter ringan 140 pound, sementara Zuffa Boxing belum memiliki divisi tersebut.
Meski begitu, Stevenson percaya bahwa ia akan mendapatkan fleksibilitas yang lebih dibandingkan petinju lainnya dan yakin bahwa hubungan baik Zuffa Boxing dengan Turki Alalshikh akan membantu mewujudkan pertarungan-pertarungan besar yang diinginkannya. Keberhasilan Zuffa Boxing dalam memenuhi ambisi Stevenson kini menjadi ujian berikutnya. Jika promotor tersebut mampu menghadirkan lawan-lawan elite dari berbagai organisasi, perekrutan Stevenson berpotensi menjadi titik balik yang mengubah peta persaingan dalam dunia tinju profesional.