Dalam Kejuaraan Dunia BWF yang berlangsung di New Delhi, para pemain dan pelatih memberikan pandangan yang berbeda mengenai penerapan sistem penilaian 15 poin yang akan segera diberlakukan. Dengan berakhirnya era sistem 21 poin, pertanyaan muncul apakah perubahan ini akan meringankan beban para atlet atau justru mengubah dinamika permainan.
Mulai Januari mendatang, saat musim BWF World Tour 2027 dimulai, bulu tangkis akan kembali menggunakan format penilaian 3x15 poin, menggantikan sistem 21 poin yang telah diterapkan sebelumnya. Kejuaraan Dunia di New Delhi menjadi turnamen terakhir yang menggunakan format lama ini, dan perdebatan mengenai sistem baru kembali mencuat.
Sistem 15 poin bukanlah hal baru dalam dunia bulu tangkis, karena sebelumnya telah digunakan hingga tahun 2006. Pada saat itu, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) yang mendukung perubahan ini berpendapat bahwa sistem tersebut akan membuat olahraga ini lebih sederhana dan lebih mudah diakses oleh penonton. Namun, sistem 15 poin yang baru tidak akan mengembalikan aturan servis-over lama, di mana hanya pemain yang melakukan servis yang dapat memenangkan poin.
Tujuan Pengurangan Beban Fisik
Thomas Lund, sekretaris jenderal BWF dan mantan pemain, menjelaskan bahwa pengurangan enam poin dari format sebelumnya bertujuan untuk mengurangi beban fisik yang ditanggung oleh para pemain. "Beban pada para pemain semakin besar. Kami berusaha membantu para pemain sebisa mungkin agar tidak cedera. Kami mencoba mencapai keseimbangan dengan sedikit mengurangi beban. Ini bukan revolusi; ini adalah evolusi dari sistem penilaian," ungkap Lund dalam konferensi pers di Stadion Indoor Indira Gandhi.
Cedera di kalangan pemain saat ini menjadi hal yang umum, dengan banyak atlet kesulitan beradaptasi dengan sistem turnamen mingguan yang ada. Melihat pemain yang memasuki turnamen dengan kompres es di kaki mereka menjadi pemandangan yang biasa. Contohnya, An Se Young tiba dengan cedera lutut kiri tetapi berhasil meraih medali emas tunggal putri di New Delhi.
Strategi Baru dalam Kompetisi
Pemain telah lama mengeluhkan kelelahan akibat berpartisipasi dalam turnamen berturut-turut dengan sedikit waktu untuk pemulihan. Namun, BWF belum menyelesaikan masalah ini. Sebaliknya, mereka memilih untuk mengubah inti permainan dengan merombak sistem penilaian. Saat ini, para pemain berusaha mengatasi tantangan ini dengan fokus pada penguatan fisik, sesi pemulihan, dan peningkatan daya tahan tubuh.
Di sisi lain, Prancis menggunakan analisis data untuk merencanakan turnamen dan modul pelatihan bagi para atletnya. Mereka memilih untuk berkompetisi di turnamen tertentu alih-alih mengikuti setiap ajang. Dengan Alex Lanier di nomor tunggal putra dan Thom Gicquel-Delphine Delrue di nomor ganda campuran, Prancis berhasil meraih dua medali emas, yang semakin meningkatkan kredibilitas sistem tersebut.
Seiring dengan meningkatnya fokus para pemain pada aspek fisik permainan, gaya permainan pun berkembang. Dari reli yang lambat dan mengalir, kini beralih ke permainan yang lebih mengutamakan kekuatan eksplosif, gerakan kaki yang cepat, dan reli yang lebih rumit. Dengan meningkatnya tingkat kebugaran, lima disiplin bulu tangkis menunjukkan perkembangan yang pesat, meninggalkan era ketika hanya dua atau tiga pemain yang mendominasi permainan.
Reli menjadi lebih sulit dihentikan, poin lebih sulit diraih, dan pertandingan semakin intens, dengan rata-rata durasi pertandingan melebihi 50 menit. Hal ini mencerminkan kemajuan keterampilan pengembalian bola para pemain. "Para pemain sekarang jauh lebih agresif dan permainan jauh berbeda dari 10 tahun yang lalu. Kami telah mencoba beradaptasi," kata Thinaah Muralitharan, bintang ganda putri Malaysia.
Bangkitnya negara-negara seperti Prancis dan Kanada menjadi perkembangan positif bagi bulu tangkis. Di Kejuaraan Dunia, meskipun Prancis meraih dua medali emas, Garret Tan dari AS berhasil mengejutkan dengan mengalahkan favorit tuan rumah, Lakshya Sen. Kebangkitan kakak beradik Stoeva dari Bulgaria, Gabriela dan Stefani, juga menunjukkan tren yang sama.
Evolusi permainan ini memerlukan waktu 20 tahun untuk terwujud. Kini, perubahan format penilaian dapat mengancam kemajuan yang telah dicapai banyak pemain dan negara, memaksa mereka untuk beradaptasi dari awal kembali.