Valentino Rossi, salah satu pembalap terkemuka dalam sejarah MotoGP, dikenal karena kecerdasannya. Namun, mantan manajer Yamaha, Davide Brivio, menegaskan bahwa kecerdikan Rossi tidak pernah mengorbankan kejujuran terhadap rekan setimnya, bahkan saat bersaing untuk meraih gelar juara.
Rossi dan Jorge Lorenzo terlibat dalam persaingan yang sangat ketat ketika keduanya menjadi rekan setim di Yamaha dari tahun 2008 hingga 2010. Brivio, yang saat itu menjabat sebagai manajer tim, menyaksikan langsung dinamika persaingan tersebut. Ia menyatakan bahwa berhadapan dengan rekan setim yang menggunakan motor dan mendapatkan dukungan teknis yang sama memberikan tekanan yang berbeda.
Pengalaman Berharga di Tahun 2009
"Apa yang terjadi pada 2009 adalah pengalaman profesional yang luar biasa bagi saya, karena Valentino dan Lorenzo bersaing untuk gelar juara di dalam tim yang sama," ungkap Brivio. Keduanya memiliki akses yang setara terhadap komponen baru, dan jika salah satu pembalap menemukan solusi yang lebih baik, pembaruan tersebut juga tersedia untuk rekan setimnya. Menurut Brivio, situasi ini membuat persaingan semakin intens, karena tidak ada keuntungan teknis yang bisa disembunyikan dari pembalap lain di garasi.
Perbandingan dengan Marc Marquez
Brivio juga membandingkan sikap Rossi dengan Marc Marquez. Dalam sebuah dokumenter, Marquez mengakui bahwa terkadang pembalap memberikan umpan balik tertentu untuk mencegah rekan setimnya mendapatkan keuntungan dari pengembangan motor. "Ini trik yang dilakukan semua orang. Mereka hanya tidak mengatakannya," kata Marquez. Namun, Brivio menegaskan bahwa ia tidak pernah melihat Rossi melakukan hal serupa. "Valentino tidak pernah melakukan hal semacam itu. Valentino selalu jujur, adil, dan loyal," tegasnya.
Brivio menambahkan bahwa meskipun Rossi sangat cerdik dalam bertarung di lintasan, ia tidak menggunakan kecerdikannya untuk menghambat kemajuan rekan setimnya. Selain itu, kontribusi Rossi terhadap Yamaha jauh lebih besar daripada sekadar kemenangan yang diraihnya. Ketika bergabung dengan Yamaha pada tahun 2004, Rossi turut membantu mengarahkan pengembangan YZR-M1 hingga motor tersebut mampu bersaing untuk meraih gelar juara.
"Ketika Valentino bergabung dengan Yamaha sekitar tahun 2003 dan 2004, sejumlah solusi cepat dilakukan untuk membenahi masalah-masalah minor," jelas Brivio. "Motor Yamaha sesungguhnya lahir pada 2005, dibangun dengan semua pengalaman itu. Kami memenangkan tiga kejuaraan dan itulah fondasinya." Fondasi yang dibangun tersebut kemudian membantu Yamaha meraih gelar bersama Jorge Lorenzo pada tahun 2010, 2012, dan 2015, sebelum Fabio Quartararo membawa pabrikan Jepang itu kembali menjadi juara dunia pada tahun 2021, tahun di mana Rossi mengakhiri kariernya di MotoGP.