Atlet karate muda Indonesia, Zaskia Putri Salurante, sukses meraih medali perunggu di ajang 14th WKF Cadet, Junior & U21 World Championships 2026 yang diadakan di Bielsko-Biala, Polandia, pada tanggal 14 hingga 18 Oktober 2026. Zaskia mengunci posisi ketiga setelah bertanding di perebutan medali perunggu untuk nomor kata perorangan putri junior pada hari Sabtu, 17 Oktober 2026. Keberhasilan ini menjadi pencapaian yang signifikan bagi Indonesia dan menunjukkan bahwa atlet muda Tanah Air mampu bersaing dengan karateka dari berbagai negara.
Perjalanan Zaskia dimulai pada babak eliminasi yang berlangsung pada hari Kamis, 15 Oktober. Ia membuka kompetisi dengan menampilkan kata Kanku Sho dan berhasil mengalahkan Aurelija Ivanova dari Latvia dengan skor 5-0. Selanjutnya, Zaskia melanjutkan performanya yang mengesankan dengan menundukkan Isabella Sanchez dari Amerika Serikat dengan skor 5-0, Chiara Brandauer dari Portugal dengan skor 4-1, dan Belen Guzman Vergara dari Republik Dominika dengan skor 4-1.
Semifinal dan Perebutan Medali Perunggu
Di babak semifinal, Zaskia harus mengakui kekalahan dari Wakana Ito asal Jepang dengan skor 0-5. Namun, ia berhasil bangkit pada pertandingan perebutan medali perunggu dengan mengalahkan Rocio Castro Lopez dari Spanyol, sehingga memastikan tempatnya di podium dunia.
Harmen Saputra, Manajer Tim Nasional Karate Indonesia sekaligus Kepala Delegasi, menyatakan rasa bangga dan syukur atas perjuangan seluruh atlet yang mewakili Indonesia di kejuaraan dunia tersebut. "Kami tentu sangat bangga dengan hasil yang dicapai tim Indonesia, khususnya Zaskia Putri Salurante yang berhasil meraih medali perunggu dunia di kategori Junior Female Kata," ungkap Harmen dalam keterangan tertulis pada hari Minggu, 18 Oktober 2026. "Ini merupakan hasil yang sangat berarti bagi kontingen Indonesia," tambahnya.
Persiapan dan Evaluasi Tim
Harmen menjelaskan bahwa persiapan tim nasional untuk kejuaraan dunia kali ini tergolong singkat, dengan para atlet menjalani pemusatan latihan atau Training Camp (TC) selama kurang lebih dua minggu sebelum berangkat ke Polandia. "Dengan persiapan TC yang relatif singkat, sekitar dua minggu, kami tentu sangat bersyukur masih bisa membawa pulang medali dari kejuaraan dunia," katanya. "Ini merupakan hasil kerja keras atlet, pelatih, dan seluruh tim yang telah berjuang maksimal," lanjutnya.
Meski demikian, Harmen mengakui bahwa masih ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, terutama pada nomor kumite yang belum berhasil meraih medali. "Untuk kategori kumite, kali ini memang belum menjadi rezeki kita. Namun, hasil ini harus menjadi bahan evaluasi bersama," ujarnya. "Kita melihat banyak atlet dari negara lain memiliki keunggulan postur tubuh yang lebih tinggi serta jangkauan serangan yang lebih panjang. Ini merupakan tantangan yang harus kita jawab melalui peningkatan strategi, teknik, kecepatan, pengaturan jarak, dan kualitas latihan," tambahnya.
Sementara itu, Ricky Muchtar, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB Forki) Bidang Luar Negeri, menegaskan bahwa keberhasilan Zaskia bukanlah hasil yang instan. Ia menjelaskan bahwa perjalanan panjang Zaskia, yang akrab disapa Keong, merupakan contoh nyata pentingnya pembinaan atlet secara konsisten dan berkelanjutan melalui pengalaman kompetisi internasional. "Prestasi Keong hari ini tidak terjadi dalam semalam. Ini adalah hasil dari proses pembinaan yang panjang," jelas Ricky. "Ketika pertama kali mengikuti kejuaraan dunia pada masa kadet, Keong belum berhasil meraih medali. Tetapi kami tidak menyerah. Kami terus mendorong Keong untuk mengikuti berbagai event WKF, baik dengan pembiayaan mandiri maupun melalui dukungan perguruan," tuturnya. "Karena kami percaya, untuk menghasilkan atlet kelas dunia, mereka harus diberikan kesempatan dan pengalaman bertanding di level dunia secara konsisten," pungkasnya.