Mantan pemain basket putra dari Abilene Christian University, Airion Simmons, telah dijatuhi hukuman larangan seumur hidup oleh NCAA setelah diduga terlibat dalam skema pengaturan pertandingan yang berkaitan dengan taruhan olahraga. Pengumuman mengenai keputusan ini disampaikan oleh NCAA melalui Division I Committee on Infractions pada hari Jumat, 15 Mei 2025.
Simmons dituduh bekerja sama dengan seorang rekan setim dan seorang penjudi untuk sengaja kalah dalam pertandingan yang berlangsung pada Maret 2024 demi mendapatkan imbalan uang. Hasil penyelidikan yang dilakukan oleh NCAA mengungkapkan bahwa Simmons juga menerima tawaran dari penjudi lain pada Desember 2025 untuk melakukan pengaturan hasil pertandingan dengan imbalan finansial.
Skema Penyuapan dan Penipuan
Kasus ini merupakan bagian dari penyelidikan besar yang dilakukan oleh jaksa federal di Pennsylvania. Pada bulan Januari, Airion Simmons bersama dua penjudi lainnya dikenakan dakwaan federal yang mencakup tuduhan penyuapan, penipuan, dan konspirasi. Jaksa menyatakan bahwa skema pengaturan skor ini melibatkan penjudi yang merekrut pemain dengan janji pembayaran besar agar mereka sengaja tampil buruk dalam pertandingan. Para pelaku kemudian memasang taruhan melawan tim yang diperkuat oleh pemain tersebut untuk mendapatkan keuntungan dari sportsbook dan petaruh lainnya.
Dalam praktiknya, beberapa pemain disebut-sebut mengajak rekan setim mereka untuk terlibat, baik dengan cara bermain buruk, sengaja duduk di bangku cadangan, atau tidak memberikan bola kepada pemain yang tidak terlibat dalam skema tersebut. Namun, beberapa upaya pengaturan pertandingan juga dilaporkan gagal, menyebabkan para pelaku mengalami kerugian dalam taruhan mereka.
Pengungkapan Kasus dan Implikasi
Kasus Airion Simmons mulai terkuak setelah seorang mantan atlet basket Abilene Christian melaporkan dugaan pelanggaran pada September 2025. Atlet tersebut, yang kemudian keluar dari program basket kampus, menyatakan bahwa Simmons dan seorang rekan setim pernah mencoba mengajaknya untuk sengaja kalah dalam pertandingan demi uang. Dalam laporan tersebut, atlet itu mengaku menerima panggilan FaceTime yang melibatkan Simmons, rekan setimnya, dan seorang penjudi yang meminta mereka untuk mengatur hasil pertandingan demi keuntungan taruhan.
Atlet yang melaporkan kasus ini mengungkapkan bahwa saat ia terlibat dalam pertandingan, hasil akhir sudah hampir ditentukan, sehingga performanya tidak memengaruhi hasil pertandingan. Simmons juga menyatakan kepada penyidik NCAA bahwa ia memberi tahu penjudi mengenai cedera tangan yang dialaminya serta ketidakpastian mengenai statusnya untuk tampil. Ia juga mengungkapkan bahwa seorang rekan setim lainnya tidak akan bermain dalam pertandingan tersebut.
Menurut NCAA, Simmons ditawari uang sebesar 3.500 dolar AS untuk "bermain buruk" dalam pertandingan tersebut, dan ia hanya tampil selama 11 menit sebelum keluar karena cedera. Dalam pengakuannya, Simmons menyatakan bahwa ia menerima uang tunai di area parkir di Dallas setelah pertandingan. NCAA mencatat bahwa Simmons tidak membagikan uang tersebut kepada rekan setim lainnya yang terlibat. Meskipun awalnya bersedia diwawancarai oleh penyelidik NCAA, Simmons kemudian menolak untuk melanjutkan proses kasus ini.
Airion Simmons menjadi atlet terbaru yang kehilangan kelayakan bermain akibat kasus pengaturan skor. Sebelumnya, dua mantan pemain basket dari Fordham University juga telah dijatuhi larangan seumur hidup oleh NCAA dalam kasus yang serupa.