Chantelle Cameron kini merasa bertarung tanpa tekanan menjelang duel penting melawan Mikaela Mayer. Petinju asal Northampton ini menganggap pencapaian yang diraihnya sebagai juara dunia tak terbantahkan merupakan bonus dalam perjalanan kariernya.
Pada tahun 2023, Cameron mencetak kejutan besar dengan mengalahkan Katie Taylor dan meraih status undisputed. Namun, kemenangan tersebut tidak bertahan lama karena Taylor berhasil membalas kekalahannya dalam pertandingan ulang. Kekalahan itu menjadi satu-satunya catatan buruk dalam rekornya. Meskipun harus mengakui keunggulan salah satu petinju terbaik dalam sejarah tinju wanita, Cameron mengaku sulit menerima hasil tersebut pada awalnya.
Perubahan Pandangan dan Mentalitas
Seiring berjalannya waktu, pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap olahraga. Cameron merasa tekanan yang sebelumnya membebani dirinya kini sudah berkurang. “Jika Anda seorang atlet level tinggi, kekalahan adalah hal terburuk yang bisa terjadi. Tetapi sekarang saya sadar bahwa kalah bukanlah akhir dari segalanya,” ujarnya.
Dia merasa bersyukur pernah mengalami kekalahan itu karena membuat beban di pundaknya terasa lebih ringan. “Sekarang saya bisa menikmati tinju dan itu mungkin membuat saya lebih berbahaya karena saya tidak punya apa pun untuk hilang. Saya sudah mencapai apa yang ingin saya capai,” tambahnya.
Kembali ke Tim Lama dan Kehidupan Baru
Perubahan mental ini juga sejalan dengan perubahan dalam kehidupan Cameron. Setelah sebelumnya bekerja dengan Grant Smith dan Stephen Smith, ia kembali ke tim lamanya yang dipimpin oleh Jamie Moore dan Nigel Travis. Cameron kini menetap di Manchester dan merasa lebih nyaman dengan lingkungan barunya. “Saya jauh lebih bahagia. Sekarang saya bahkan sudah memiliki rumah di sini, jadi hidup terasa jauh lebih stabil. Saya sangat menyayangi Jamie dan Nigel, mereka seperti keluarga bagi saya,” ungkapnya.
Bersama Moore dan Travis, Cameron berhasil meraih gelar WBO kelas welter dalam pertarungan terakhirnya melawan Michaela Kotaskova pada bulan April lalu. Pertarungan tersebut menjadi pengalaman penting karena berlangsung dalam format 10 ronde dengan durasi tiga menit per ronde. Cameron berharap dapat bertarung dengan format yang sama saat melawan Mayer, namun duel mereka tetap menggunakan dua menit per ronde sesuai dengan aturan tinju wanita.
Meski demikian, Cameron berhasil mencapai kesepakatan catchweight 148 pon untuk pertarungan di Birmingham. Meskipun berlangsung di batas berat tersebut, tiga gelar dunia milik Mayer, yaitu WBC, WBO, dan WBA kelas welter super, tetap dipertaruhkan. Cameron merasa pengalaman bertarung dalam ronde tiga menit memberinya kepercayaan diri baru dan kemampuan untuk bertarung dengan tempo lebih tinggi.
Kini, pertarungan melawan Mayer menjadi kesempatan bagi Chantelle Cameron untuk kembali menunjukkan kualitasnya. Dengan tekanan yang jauh lebih rendah dibandingkan sebelumnya, Cameron merasa percaya diri untuk tampil lebih berbahaya di atas ring.