Logo
Basket

Desakan Anggota Kongres AS Agar WNBA Melindungi Caitlin Clark

Sebanyak 11 anggota Kongres AS dari Partai Republik meminta WNBA untuk mengambil tindakan lebih tegas dalam melindungi Caitlin Clark, bintang Indiana Fever, setelah serangkaian insiden fisik yang dial...

S
Surya Kirana
11 July 2026 29 pembaca
Mereka mendesak liga mengambil langkah yang lebih tegas dalam melindungi Caitlin Clark, menyusul sejumlah insiden fisik yang dialaminya sepanjang musim ini. (Foto: AP)
Mereka mendesak liga mengambil langkah yang lebih tegas dalam melindungi Caitlin Clark, menyusul sejumlah insiden fisik yang dialaminya sepanjang musim ini. (Foto: AP)

Sebanyak sebelas anggota Kongres Amerika Serikat yang berasal dari Partai Republik telah mengirimkan surat kepada Komisaris WNBA, Cathy Engelbert, terkait perlindungan bagi Caitlin Clark, pemain bintang dari Indiana Fever. Mereka mendesak agar liga mengambil langkah yang lebih tegas setelah Clark mengalami beberapa insiden fisik selama musim ini.

Surat yang dipimpin oleh anggota DPR dari Texas, August Pfluger, dikirim pada Rabu, 8 Juli. Dalam surat tersebut, para legislator meminta WNBA untuk bertanggung jawab atas apa yang mereka sebut sebagai serangan-serangan terhadap Clark di lapangan. Mereka menggambarkan Caitlin Clark sebagai sosok yang sangat berpengaruh dalam meningkatkan popularitas liga.

Menurut isi surat tersebut, kehadiran pemain berusia 24 tahun ini telah berkontribusi dalam menarik minat penggemar, meningkatkan rating siaran televisi, serta menarik sponsor baru untuk kompetisi. Para anggota Kongres juga menilai bahwa Clark telah menjadi target dari tindakan fisik yang tidak semestinya selama pertandingan.

Insiden Fisik yang Dialami Clark

Mereka menyebutkan beberapa insiden, termasuk dorongan menggunakan pinggul, sentuhan di area mata, serta pukulan di tenggorokan yang baru-baru ini terjadi. Selain itu, para legislator juga mengungkapkan kekhawatiran terkait laporan yang menyebutkan bahwa serangan terhadap Clark mungkin memiliki unsur rasial.

Dalam surat tersebut, para anggota Kongres menekankan bahwa WNBA memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa semua pemain dapat bertanding dalam lingkungan yang aman, profesional, dan bebas dari kekerasan, diskriminasi, serta tindakan balasan. Mereka bahkan menyatakan dukungan terhadap penyelidikan oleh Departemen Kehakiman, Departemen Tenaga Kerja, atau Komisi Kesempatan Kerja yang Setara jika ditemukan indikasi diskriminasi yang melanggar hukum hak sipil federal.

Para anggota Kongres meminta Engelbert untuk memberikan tanggapan paling lambat pada 24 Juli. Mereka mengajukan tiga pertanyaan utama, yaitu mengenai proses peninjauan insiden kekerasan fisik di lapangan, mekanisme pemberian sanksi terhadap tindakan yang dianggap terlalu agresif, serta langkah-langkah yang diambil liga untuk melindungi pemain dari pelecehan di media sosial.

Tanggapan dari Indiana Fever

Indiana Fever mengungkapkan bahwa mereka tidak mengetahui adanya surat tersebut. Dalam pernyataan yang dikeluarkan setelah sesi latihan di Los Angeles pada Rabu, klub menyatakan bahwa baik organisasi maupun Caitlin Clark tidak pernah berkomunikasi dengan kelompok legislator tersebut. Fever menegaskan bahwa keselamatan pemain adalah prioritas utama bagi mereka dan akan terus membela para pemain serta mendukung terciptanya standar kompetisi yang lebih baik di seluruh liga.

Perdebatan mengenai tingkat kontak fisik dalam WNBA kembali mencuat setelah insiden pada 24 Juni, ketika forward Phoenix Mercury, Alyssa Thomas, mengenai tenggorokan Clark dengan kepalan tangannya dalam sebuah pertandingan di Indianapolis. Wasit saat itu tidak memberikan pelanggaran, tetapi setelah ditinjau keesokan harinya, WNBA menjatuhkan hukuman flagrant foul 2 kepada Thomas disertai skorsing satu pertandingan.

Insiden tersebut memicu kritik dari Fever serta sejumlah pelatih dan pemain WNBA yang meminta konsistensi dari wasit dalam memimpin pertandingan dan mengatur permainan fisik. Di sisi lain, Thomas mengungkapkan bahwa dirinya dan keluarganya menerima ancaman serta pelecehan melalui media sosial setelah kejadian tersebut. Caitlin Clark pun mengecam segala bentuk pelecehan terhadap siapa pun, menegaskan bahwa tindakan kebencian dan intimidasi tidak dapat dibenarkan, baik itu ditujukan kepada lawan, rekan setim, maupun pelatih.

Artikel Terkait