Logo
Berita Olahraga

Dilema Atlet Pickleball Indonesia: Medali Banyak, Dukungan Minim

Angie Bong, atlet pickleball asal Indonesia, baru-baru ini menarik perhatian publik setelah mengungkapkan kesedihannya meski berhasil meraih 60 medali internasional dalam setahun. Ia merasa ironis kar...

A
Atha Aziz
04 October 2026 29 pembaca
kompas.com Sumber: kompas.com
Angie Bong atlet pickleball dari Indonesia yang menempati peringkat 15 di Asia untuk kategori tunggal putri dan nomor 1 di Indonesia untuk kategori ganda campuran.(Dokumentasi Pribadi)
Angie Bong atlet pickleball dari Indonesia yang menempati peringkat 15 di Asia untuk kategori tunggal putri dan nomor 1 di Indonesia untuk kategori ganda campuran.(Dokumentasi Pribadi)

KOMPAS.com - Dalam beberapa hari terakhir, Angie Bong, seorang atlet pickleball Indonesia, menjadi sorotan di media sosial. Ia mengungkapkan rasa sedihnya meski telah mengumpulkan sekitar 60 medali internasional dalam kurun waktu satu tahun. Kesedihan tersebut bukan disebabkan oleh kurangnya medali, melainkan oleh kenyataan bahwa dukungan untuk mengikuti berbagai turnamen internasional lebih banyak datang dari perusahaan asing. Situasi ini membuat atlet yang berasal dari Singkawang itu merasa ironis.

Dalam beberapa kesempatan bertanding mewakili Indonesia, ia harus menggunakan identitas yang terkait dengan negara yang memberikan dukungan. "Saya mengeluh karena merasa kok susah banget untuk cari sponsor di Indonesia, karena beberapa kali email tidak dibalas bahkan untuk support sekelas sepatu saja susah banget sumpah," ungkapnya pada Sabtu malam (3/10/2026) WIB.

Ketergantungan pada Sponsor Asing

Angie menjelaskan bahwa saat ini semua sponsor yang mendukungnya untuk berkompetisi di tingkat profesional berasal dari perusahaan asing. "Meskipun saya bukan satu-satunya orang Indonesia yang baru menyelesaikan tur di luar negeri, saya juga pergi bersama teman yang berasal dari Bali. Hanya saja, saya lebih aktif mengikuti turnamen-turnamen ini ke berbagai negara," tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, masalah sponsor menjadi semakin rumit karena dukungan tersebut membawa konsekuensi terhadap identitas yang digunakannya saat bertanding. Ia menceritakan pengalaman bertanding di China, Vietnam, dan Kanada dengan menggunakan bendera negara yang mensponsori. "Sebenarnya yang saya sesalkan ketika main di China itu harus pakai bendera China karena kalau tidak saya tidak dibiayain. Kemudian saat main di Vietnam logo-logo yang saya pakai itu dari sponsor luar semua," ujarnya.

Identitas yang Hilang di Tengah Prestasi

Angie merasa situasi ini menimbulkan perasaan yang sulit untuk diungkapkan. Meskipun ia berhasil meraih prestasi, identitas sebagai atlet Indonesia tidak selalu terlihat saat bertanding. "Sedih, karena setiap turnamen ini hampir selalu mendapatkan medali tapi tak bisa disebutkan nama Indonesia-nya karena supportnya dari asing semua dan ikutin aturan mereka juga," jelasnya. "Bulan depan saya ada turnamen di China jadi semua disupport dari sana mau tidak mau dijalani. Kalau tidak, gak bisa dapat pengalaman di luar," tambahnya.

Menurutnya, masalah sponsor bukan hanya soal finansial. Ia lebih memikirkan bagaimana prestasi atlet Indonesia dapat tetap mencerminkan identitas negaranya. "Sedih saja dari ujung kaki sampai kepala yang ngasih orang luar semua. Itu yang saya sesalkan, mau sampai kapan seremonial harus pakai bendera luar," kata mantan atlet tenis ini.

Kekhawatiran Angie tidak hanya dirasakannya sendiri. Ia berbagi pengalaman melalui media sosialnya dan mendapatkan respons dari banyak atlet lain yang menghadapi masalah serupa. "Ini sebagai edukasi juga, banyak yang DM saya di medsos karena senasib," tuturnya. "Kadang atletnya cerita langsung, ada juga orang tua atlet yang mengeluh, padahal sudah berprestasi tapi harus berhenti di tengah jalan," ujarnya.

Ia menekankan bahwa tidak semua atlet memiliki akses atau jaringan untuk mencari sponsor dari luar negeri. "Sedih bacanya. Bersyukur saya lebih beruntung karena tahu caranya mencari sponsor di luar," kata Angie. "Bagaimana kalau orang tidak bisa cari kaya daya kan kasian akhirnya karirnya terhenti dan selesai. Saya beruntung saja ada link di keluar negeri bisa survive untuk jalan terus," sambungnya.

Angie berharap bahwa perhatian terhadap masalah ini dapat membantu atlet lain yang berprestasi namun terhambat oleh kurangnya dukungan. "Tapi ada satu dari Indonesia baru-baru ini. Aku bersyukur ya sejak aku posting itu ada beberapa sponsor yang proses deal," ungkapnya. "Sebenarnya saya sedih bukan gara-gara tidak ada duit tapi sedihnya itu ketika menang negara asal saya tidak disebutkan. Itu yang bikin miris, kalau materi ada tapi yang bikin begitu sedih dapat medali tapi Indonesia tidak disebut, kalau disebutkan kan merasa ada kebanggaan," pungkasnya.

Artikel Terkait