Logo
Sepakbola

Gejolak Kepemimpinan FIFA: Gianni Infantino Menghadapi Rapat Dewan di Zurich

Kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA terancam setelah desakan untuk mundur menjelang rapat Dewan FIFA di Zurich. Desakan ini muncul setelah rencana penjualan saham komersial FIFA gagal.

A
Atha Aziz
15 October 2026 20 pembaca
Kepemimpinan FIFA menjadi sorotan menjelang rapat Dewan FIFA yang dijadwalkan berlangsung di Zurich pada Kamis mendatang.(AFP/RONALDO SCHEMIDT)
Kepemimpinan FIFA menjadi sorotan menjelang rapat Dewan FIFA yang dijadwalkan berlangsung di Zurich pada Kamis mendatang.(AFP/RONALDO SCHEMIDT)

Puncak kepemimpinan FIFA dipastikan akan memanas menjelang rapat Dewan FIFA yang akan berlangsung di Zurich pada hari Kamis mendatang. Gianni Infantino, selaku Presiden FIFA, akan menghadapi tekanan dari berbagai kalangan elit sepak bola global yang mendesaknya untuk segera mengundurkan diri. Desakan ini muncul setelah rencana Infantino untuk menjual sebagian saham komersial dalam turnamen-turnamen utama FIFA, termasuk Piala Dunia, mengalami kegagalan total.

Gelombang penolakan terhadap kepemimpinan Infantino dipimpin oleh tiga konfederasi regional yang berpengaruh, yaitu UEFA (Eropa), AFC (Asia), dan CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, dan Karibia). Para perwakilan dari ketiga konfederasi tersebut akan hadir di Zurich, bersama dengan utusan dari Afrika, Amerika Selatan, dan Oseania.

Fokus Rapat Dewan FIFA

Rapat Dewan FIFA yang terdiri dari 37 anggota ini akan memfokuskan pembahasan pada kegagalan skema FIFA Forward Enterprise (FFE). Wacana ini sebelumnya diusulkan oleh Infantino pada bulan Juli lalu, namun dibatalkan hanya dalam waktu singkat. Dalam rencana FFE, Infantino mengusulkan untuk menjual saham minoritas dari anak perusahaan komersial kepada investor swasta, dengan Joshua Kushner sebagai calon investor utama yang sempat dibidik.

Jika upaya untuk memaksa Infantino mundur tidak berhasil, sejumlah pemimpin sepak bola bertekad untuk membatasi kewenangan dan ruang gerak presiden FIFA tersebut. Infantino, yang kini berusia 56 tahun, diproyeksikan akan mencalonkan diri kembali dalam pemilihan Presiden FIFA yang dijadwalkan pada Maret 2027. Batas waktu pendaftaran calon akan ditutup pada 18 November.

Pembagian Dukungan dan Ketegangan Internal

Saat ini, mantan pemain Swiss, Ramon Vega, telah menyatakan niatnya untuk maju sebagai calon presiden meskipun belum mengonfirmasi pemenuhan syarat dukungan dari minimal lima asosiasi nasional. Ketegangan di dalam organisasi semakin meningkat setelah Presiden UEFA Aleksander Ceferin, Presiden AFC Salman Al Khalifa, dan Presiden CONCACAF Victor Montagliani menyatakan perlunya perombakan di jajaran pimpinan tertinggi FIFA. Meskipun demikian, Infantino terus berusaha menggalang dukungan politik, termasuk mendapatkan sambutan positif dari para pemimpin sepak bola Afrika saat kunjungannya ke Cape Verde pekan lalu serta memperoleh dukungan dari Amerika Selatan menjelang kongres di Rabat, Maroko. Beberapa negara di Asia, khususnya dari blok Arab, juga dilaporkan masih memberikan dukungan kepada Infantino.

Rapat dewan mendatang tidak hanya akan mengevaluasi kegagalan program FIFA Forward Enterprise (FFE), tetapi juga akan membahas cadangan kas keuangan, mekanisme penyaluran dana kepada asosiasi anggota, kerangka tata kelola, serta kontroversi mengenai Penghargaan Perdamaian yang diberikan kepada mantan Presiden AS Donald Trump. Sebagai respons atas batalnya alokasi dana pengembangan dari skema FFE, UEFA dan CONCACAF telah mendesak agar dana kompensasi sebesar 10 juta dollar AS disalurkan kepada masing-masing dari 211 negara anggota.

Emanuel Medeiros, pendiri dan CEO Global Sport Integrity Global Alliance, sebuah kelompok yang mendorong tata kelola yang lebih baik dalam olahraga, menyatakan bahwa FIFA perlu mengadakan diskusi terbuka di Zurich.

Artikel Terkait