Logo
Olahraga Lain

Hamilton Suarakan Dukungan untuk Pembebasan Wilayah Krisis Global

Pembalap Lewis Hamilton menggunakan platform Formula 1 untuk menyerukan pembebasan bagi Palestina, Kongo, Sudan, dan Suriah, menekankan pentingnya perhatian terhadap isu-isu kemanusiaan.

D
Dharma Kusuma
26 October 2026 8 pembaca
Lewis Hamilton mendesak pembebasan Palestina dan sejumlah negara di Afrika. (Dok. @lewishamilton)
Lewis Hamilton mendesak pembebasan Palestina dan sejumlah negara di Afrika. (Dok. @lewishamilton)

Dalam ajang Formula 1, pembalap Ferrari Lewis Hamilton mengambil kesempatan untuk mengungkapkan seruan kemanusiaan terkait pembebasan Palestina, Kongo, Sudan, dan Suriah. Pernyataan ini disampaikan oleh Hamilton menjelang persiapan Formula 1 Grand Prix Amerika Serikat, setelah diumumkannya rencana penyelenggaraan GP Afrika pada awal tahun 2030-an.

Menurut laporan dari MotorBiscuit.com, Hamilton menunjukkan kepeduliannya terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di seluruh dunia. Juara dunia tujuh kali ini berpendapat bahwa agenda olahraga tidak seharusnya mengabaikan berbagai konflik sosial dan pelanggaran hak asasi manusia yang tengah berlangsung.

Pentingnya Kesadaran Global

"Saya pikir kita perlu memastikan bahwa kita terus mendorong untuk membebaskan Kongo, membebaskan Sudan, membebaskan Suriah, membebaskan Palestina. Saya berharap ada banyak perdamaian yang pada suatu saat nanti bisa kita capai," ungkap Hamilton. Pernyataan ini muncul di tengah sorotan terhadap penunjukan Rwanda, yang mendapat kritik dari Amnesty International terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia dalam konflik di Republik Demokratik Kongo.

Hamilton menekankan bahwa keberadaan ajang F1 di Afrika tidak boleh mengalihkan perhatian dari masalah-masalah penting yang ada di wilayah tersebut. Ia mendorong masyarakat global untuk lebih aktif dalam mempelajari sejarah dan dinamika politik yang dihadapi benua Afrika.

Advokasi untuk Afrika

"Tentu saja pergi ke sana bukan berarti kita mengabaikan hal-hal yang sedang terjadi di sana. Jadi, mudah-mudahan banyak orang mulai mengedukasi diri mereka sendiri tentang apa yang terjadi di sana," tambahnya. Pembalap berusia 41 tahun ini juga mengakui bahwa ia telah berupaya untuk mengadvokasi kembalinya balapan F1 di Afrika selama bertahun-tahun, melakukan banyak pertemuan dengan CEO F1 Stefano Domenicali dan pemimpin negara-negara Afrika untuk merealisasikan agenda tersebut.

"Saya telah mengadvokasi balapan di Afrika selama bertahun-tahun. Saya melakukan rapat yang tidak terhitung jumlahnya dengan para pemangku kepentingan, termasuk pertemuan dengan Stefano maupun panggilan telepon dengan presiden dari berbagai negara," tuturnya.

Artikel Terkait