Ketegangan dalam kepemilikan Los Angeles Lakers kembali meningkat. Jeanie Buss secara tegas menolak rencana penjualan saham keluarganya, tetapi proses tersebut terhenti sementara setelah pengadilan memutuskan untuk menunda sidang penjualan saham Lakers hingga bulan Desember mendatang.
Sidang yang awalnya dijadwalkan berlangsung di Pengadilan Tinggi Los Angeles pada 5 November 2026, kini diundur menjadi 8 Desember 2026. Penundaan ini terjadi setelah Adam Streisand, pengacara Jeanie Buss, mengajukan permohonan untuk menunda sidang karena harus menghadiri dua agenda di Eropa dan baru akan kembali ke Los Angeles pada 18 November. Dengan demikian, perjuangan hukum Jeanie untuk menghentikan penjualan saham keluarganya harus menunggu lebih lama.
Awal Perseteruan Keluarga Buss
Konflik di antara anggota keluarga Buss dimulai ketika lima saudara Jeanie sepakat untuk menjual sisa saham kepemilikan mereka yang mencapai 17,8 persen kepada kelompok yang dipimpin oleh Bob Iger dan Joshua Kushner. Sebelumnya, Iger dan Kushner telah mengakuisisi saham mayoritas Lakers dari Mark Walter dengan nilai fantastis sebesar 12,5 miliar Dolar AS, yang merupakan angka tertinggi dalam sejarah penjualan klub olahraga. Transaksi ini terjadi kurang dari setahun setelah Walter membeli Lakers dari keluarga Buss dengan harga 10 miliar Dolar AS.
Meskipun kepemilikan telah berpindah ke tangan Walter, Jeanie tetap menjabat sebagai gubernur Lakers. Dalam kesepakatan tersebut, dia dijamin akan menjabat setidaknya selama lima tahun. Namun, situasi berubah ketika Walter memutuskan untuk menjual asetnya kepada Iger dan Kushner, sebuah transaksi yang masih menunggu persetujuan dari NBA.
Perjuangan Jeanie Buss
Jeanie berusaha keras untuk mempertahankan kekuasaan dan pengaruhnya di Lakers. Untuk tetap menjabat sebagai gubernur, dia memerlukan kepemilikan minimal sebesar 15 persen. Dukungan dari sejumlah pemilik minoritas semakin memperkuat posisinya sebagai sosok yang tepat untuk memimpin Lakers. Meskipun demikian, perseteruan hukum dengan saudara-saudaranya menunjukkan bahwa drama di dalam keluarga Buss masih jauh dari selesai.