Logo
Berita Olahraga

Kejuaraan Taekwondo Asia di Jakarta: Momen Prestasi dan Peluang Ekonomi

Jakarta menjadi tuan rumah Asian Taekwondo Indonesia Open Championships yang berlangsung dari 1 hingga 5 Agustus. Selain mengejar prestasi, acara ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pe...

S
Surya Kirana
28 July 2026 3 pembaca
Asian Taekwondo Indonesia Open Championships digelar awal Agustus di Jakarta. (Foto: dok,PBTI)
Asian Taekwondo Indonesia Open Championships digelar awal Agustus di Jakarta. (Foto: dok,PBTI)

Jakarta saat ini menjadi lokasi penyelenggaraan Asian Taekwondo Indonesia Open Championships. Acara ini tidak hanya berfokus pada pencapaian prestasi, tetapi juga diharapkan mampu mendatangkan keuntungan ekonomi.

Kejuaraan ini akan dilaksanakan di Tennis Indoor Senayan pada tanggal 1 hingga 5 Agustus. Merupakan turnamen bergengsi yang termasuk dalam kategori G2 World Taekwondo (WT), event ini juga menjadi salah satu ajang untuk meraih poin menuju Olimpiade Los Angeles 2028 dan Kejuaraan Dunia.

Kategori Pertandingan dan Peserta

Dalam kejuaraan ini, terdapat dua kategori yang akan dipertandingkan, yaitu poomsae (seni) dan kyorugi (tarung). Pertandingan untuk kategori poomsae recognized dan freestyle dijadwalkan berlangsung pada 1-2 Agustus, sedangkan kyorugi untuk Senior Putra dan Putri akan dilaksanakan pada 3-5 Agustus.

Sebanyak 478 taekwondoin dari 36 negara siap berpartisipasi dalam kejuaraan ini. Indonesia, sebagai tuan rumah, akan mengirimkan 233 taekwondoin, di mana 31 di antaranya merupakan atlet yang telah dipersiapkan oleh Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) berdasarkan hasil dari Kejuaraan Ksatria Nusantara Series yang diadakan di beberapa kota seperti Lampung, Surabaya, Bandung, Bali, dan Kediri.

Dari 31 taekwondoin tersebut, tiga atlet yang disiapkan PBTI juga akan mewakili Indonesia dalam Asian Games Aichi Nagoya 2026, yaitu Muhammad Bassam Raihan (U68kg), Arya Danu (U80kg), dan Andi Sultan yang akan bertanding di poomsae.

Antusiasme dan Dampak Ekonomi

Sebanyak 245 taekwondoin lainnya akan datang dari berbagai negara di Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Timur Tengah. India menjadi negara dengan jumlah peserta terbanyak, diikuti oleh Hong Kong dan Filipina.

Rafael Hotasi Siagian, Sekretaris Jenderal PBTI, menyatakan bahwa tingginya antusiasme peserta membuat panitia harus membatasi jumlah atlet yang dapat berpartisipasi. "478 atlet dari 36 negara merupakan angka final. Kami harus membatasi karena ada aturan dari World Taekwondo, turnamen tidak bisa diselenggarakan hingga malam hari. Kami harus mengikuti itu," ujarnya dalam keterangan pers.

PBTI merasa senang dengan banyaknya peserta yang mendaftar, karena hal ini tidak hanya membuat turnamen menjadi lebih kompetitif, tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian, baik untuk DKI Jakarta maupun Indonesia secara keseluruhan.

Richard Tampubolon, Ketua Umum PBTI, menambahkan bahwa penyelenggaraan turnamen ini merupakan kesempatan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi untuk kompetisi olahraga internasional. "Kejuaraan ini bukan hanya tentang pertandingan dan menjadi tempat bagi atlet-atlet kita untuk mengasah kemampuan terbaik mereka, tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi Indonesia," ujarnya.

Dia juga menekankan bahwa kehadiran atlet dan ofisial dari berbagai negara diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, terutama di sektor perhotelan, transportasi, kuliner, usaha mikro, dan pariwisata, yang dapat menggerakkan roda perekonomian. "Sport tourism merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat internasional. Semakin banyak event berkualitas yang digelar, semakin besar pula peluang untuk meningkatkan kunjungan sekaligus membangun citra Jakarta sebagai kota olahraga dan destinasi internasional," tutup Richard.

Artikel Terkait