Jakarta: Fisioterapi berfungsi lebih dari sekadar menangani cedera yang dialami oleh atlet. Keberadaan fisioterapis sangat penting mulai dari tahap pencegahan, proses pemulihan, hingga memastikan atlet dapat kembali berkompetisi dan mempertahankan performanya. Pernyataan ini disampaikan oleh Faizah Abdullah, Kaprodi Fisioterapi Vokasi Universitas Indonesia (UI), dalam presentasinya mengenai 'Peran Fisioterapi dalam Mengoptimalkan Performa Atlet Perempuan' pada acara Professional Sport Workforce Training yang bertema From Science to Performance, sebagai bagian dari Indonesia Sport Summit (ISS) 2026.
Pentingnya Pendekatan Holistik
Faizah menjelaskan bahwa fisioterapi harus mempertimbangkan kondisi atlet secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada bagian tubuh yang mengalami cedera. "Atlet itu terdiri dari empat tahapan. Bukan hanya harus sehat, tetapi harus tersedia atau available untuk berlatih dan perform. Bukan hanya sampai performance, tetapi juga punya keberlanjutan dalam kariernya," ujarnya saat menyampaikan presentasinya di Cendrawasih Room, JICC Komplek GBK, Senayan, Jakarta, pada hari Jumat (11/9).
Menurutnya, cedera yang dialami oleh atlet sering kali hanya merupakan 'puncak gunung es', di mana terdapat berbagai faktor di baliknya yang perlu diperhatikan, seperti ketersediaan energi, riwayat menstruasi, kesehatan tulang, pemulihan, dan kesehatan mental. Oleh karena itu, penanganan untuk atlet perempuan harus dilakukan secara komprehensif. Fisioterapis diharapkan dapat melakukan screening dan asesmen sejak awal untuk mengidentifikasi risiko cedera sekaligus mempersiapkan kapasitas fisik atlet.
Fokus pada Cedera dan Latihan
Faizah menekankan bahwa fisioterapi seharusnya dimulai dari tahap awal, dengan melakukan screening dan asesmen, serta berusaha mencegah terjadinya cedera dengan mempersiapkan kapasitas fungsi tubuh atlet secara optimal. Salah satu perhatian khusus adalah cedera ACL, di mana atlet perempuan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya. Faktor yang memengaruhi risiko ini tidak hanya berkaitan dengan anatomi, tetapi juga hormonal dan biomekanik.
Perubahan yang terjadi pada masa pubertas, termasuk pengaruh hormon estrogen dan progesteron, dapat memengaruhi komposisi serta fungsi tubuh. Namun, perbedaan biologis ini tidak seharusnya menjadi penghalang bagi atlet perempuan untuk mencapai performa yang tinggi. Kapasitas atlet dapat ditingkatkan melalui latihan yang tepat, salah satunya melalui neuromuscular training (NMT) yang berfokus pada keseimbangan, kelincahan, dan penguatan otot, terutama pada anggota gerak bawah.
Dalam materi yang disampaikan, NMT dapat membantu mengurangi risiko cedera ACL dan ankle sprain. Latihan ini juga dapat diintegrasikan ke dalam sesi pemanasan sehingga tidak perlu menjadi program latihan terpisah. Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah siklus menstruasi. Faizah menekankan agar kondisi menstruasi tidak dijadikan satu-satunya dasar dalam menentukan program latihan atlet. Setiap atlet dapat mengalami gejala yang berbeda pada setiap fase menstruasi, sehingga pendekatan individual dianggap lebih tepat.
"Jangan program siklusnya, tetapi kita program atletnya. Secara individu kita lihat bagaimana perbedaan performa atlet dari fase ke fase," katanya. Menstruasi juga dapat berfungsi sebagai data untuk memantau kondisi atlet, di mana siklus yang tidak teratur atau berhenti dapat menjadi sinyal yang perlu ditindaklanjuti.
Kondisi lain yang perlu diperhatikan adalah relative energy deficiency in sport (RED-S), yaitu situasi di mana ketersediaan energi tidak mencukupi kebutuhan tubuh dan aktivitas olahraga. RED-S dapat berdampak pada berbagai sistem tubuh, termasuk hormonal, kesehatan tulang, kesehatan jantung, kondisi psikologis, hingga performa atlet. Pada atlet perempuan, salah satu tandanya dapat berupa gangguan atau berhentinya menstruasi. Penurunan kekuatan, daya, motivasi, dan kemampuan pemulihan juga dapat terjadi.
"Latihan harus juga diikuti dengan energi yang cukup dan masa pemulihan yang baik. Ketika latihan, energi, dan masa pemulihan ini bisa dijadikan satu komponen, ini bisa meningkatkan adaptasi dan juga meningkatkan performa atlet," tuturnya. Peran fisioterapi juga tidak berhenti ketika atlet mengalami cedera. Pendampingan perlu dilakukan sepanjang perjalanan karier atlet perempuan, termasuk saat memasuki masa kehamilan dan setelah melahirkan.
Kehamilan tidak seharusnya dipandang sebagai akhir dari karier olahraga. Tim pendukung perlu mempersiapkan atlet agar dapat menjalani proses pemulihan dan kembali ke olahraga (return to sport) hingga mencapai performa terbaik (return to performance).