Logo
Moto GP

Kembalinya Casey Stoner ke Ducati Dinilai Lebih untuk Pamer Bakat

Michele Pirro mengungkapkan bahwa Casey Stoner, saat kembali sebagai test rider Ducati, lebih fokus pada ego dan bakatnya ketimbang menjalankan peran pengembangan motor.

C
Citra Erwana
31 July 2026 2 pembaca
Casey Stoner dan Jorge Lorenzo
Casey Stoner dan Jorge Lorenzo

Michele Pirro berbagi pandangannya mengenai kembalinya Casey Stoner sebagai test rider Ducati pada tahun 2016. Ia menyatakan bahwa mantan juara dunia MotoGP dua kali tersebut lebih tertarik untuk menunjukkan bakatnya daripada menjalankan tugas pengembangan motor yang diharapkan oleh tim.

Peran Stoner yang Dipertanyakan

Pirro, yang juga merupakan test rider Ducati, mengungkapkan bahwa Stoner tidak sepenuhnya menjalankan perannya sebagai test rider sesuai harapan tim. Stoner dikenal sebagai sosok yang bersejarah bagi Ducati, setelah berhasil memberikan gelar juara dunia MotoGP pertama pada tahun 2007, pencapaian yang terus diingat hingga saat ini.

Setelah pensiun dari MotoGP pada akhir tahun 2012, Stoner kembali ke Ducati sebagai test rider pada tahun 2016. Kehadirannya saat itu diharapkan dapat mempercepat pengembangan Desmosedici dan mungkin juga tampil sebagai wildcard. Namun, kenyataannya berbeda dari ekspektasi yang ada.

Kritik terhadap Pendekatan Stoner

"Saya sempat berpikir dia ingin kembali balapan dan mengendarai motor. Namun pada kenyataannya, dia lebih ingin menunjukkan ego, bakat, dan kemampuan yang dimilikinya," ungkap Pirro dalam sebuah podcast. Ia menambahkan bahwa Stoner tidak terlalu tertarik untuk melakukan pengujian secara sistematis atau memberikan masukan yang bermanfaat untuk pengembangan motor.

Pirro juga menyebutkan bahwa Stoner sempat dipertimbangkan untuk menggantikan Danilo Petrucci yang cedera pada MotoGP Argentina 2016, tetapi rencana itu tidak terwujud karena kondisi fisiknya belum siap untuk berlomba. Ia menjelaskan bahwa gaya berkendara dan pengaturan motor Stoner sangat khas dan sulit diadaptasi oleh pembalap lain.

"Dia bekerja untuk dirinya sendiri. Setelan motor yang dia sukai hanya bisa dikendarai olehnya. Jorge Lorenzo bahkan hanya melakukan satu putaran keluar sebelum kembali ke pit. Saya juga mencobanya dan langsung berhenti setelah satu lap," jelas Pirro.

Pirro menambahkan bahwa Stoner lebih memilih untuk mengendalikan motor secara manual tanpa banyak bantuan dari perangkat elektronik. "Dia ingin mengontrol semuanya sendiri. Traksi diatur menggunakan rem belakang, sehingga dia tidak menyukai traction control atau anti-wheelie yang terlalu banyak bekerja. Bahkan saat wheelie, dia ingin mengendalikannya sendiri," kata Pirro.

Walaupun memberikan kritik terhadap pendekatan Stoner sebagai test rider, Pirro tetap mengakui kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh mantan juara dunia tersebut. Ia menyatakan bahwa penjelasan teknis dari Stoner seringkali sulit dipahami karena sensitivitasnya yang berbeda dibandingkan dengan pembalap lain seperti Jorge Lorenzo maupun Andrea Dovizioso.

Artikel Terkait