Logo
Berita Olahraga

Kemenpora Selenggarakan Pelatihan untuk Guru Olahraga di Malang: Fokus pada Pemetaan Bakat dan Partisipasi Siswa

Kementerian Pemuda dan Olahraga mengadakan pelatihan bagi 70 guru olahraga di Malang untuk memetakan bakat siswa dan mendorong partisipasi aktif dalam olahraga. Pelatihan ini bertujuan untuk memperkua...

A
Arya Satya
26 August 2026 47 pembaca
Kemenpora RI memfasilitasi 70 guru olahraga di Malang agar tidak hanya menguasai tes identifikasi bakat berbasis Manajemen Talenta Nasional (MTN). (foto: dok/Kemenpora)
Kemenpora RI memfasilitasi 70 guru olahraga di Malang agar tidak hanya menguasai tes identifikasi bakat berbasis Manajemen Talenta Nasional (MTN). (foto: dok/Kemenpora)

Malang: Pemetaan potensi anak dalam bidang olahraga menjadi sangat penting dilakukan sejak dini agar bakat-bakat unggul tidak terlewatkan. Pembinaan yang efektif harus melampaui sekadar identifikasi bakat, tetapi juga harus mendorong partisipasi aktif serta memperkuat dasar gerakan pada tahap awal. Dalam rangka menjawab tantangan ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengadakan pelatihan bagi 70 guru olahraga di Malang, agar mereka tidak hanya mampu melakukan tes identifikasi bakat berdasarkan Manajemen Talenta Nasional (MTN), tetapi juga memiliki kompetensi pedagogis untuk menerapkan konsep Fun and Active Multilateral Movement (FAMM) dalam rangka meningkatkan literasi fisik anak. Pelatihan yang berlangsung di Stadion Gajayana ini langsung diterapkan kepada 100 siswa dari tiga sekolah.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pelatihan yang diberikan oleh Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Pembudayaan Olahraga Kemenpora kepada para guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK). Dalam pelatihan ini, para guru dilengkapi dengan kemampuan untuk mengenali minat, karakteristik, dan potensi olahraga siswa melalui berbagai tes dan alat identifikasi bakat.

Pentingnya Peran Guru PJOK

Donny Ardy Kusuma, seorang akademisi dan sport scientist dari Universitas Negeri Surabaya, menekankan bahwa guru PJOK memiliki peran yang sangat strategis dalam menemukan calon atlet, karena mereka berinteraksi langsung dengan siswa di lingkungan sekolah. “Kami percaya betul bahwa guru PJOK, begitu kita menyebutnya guru olahraga, sebagai ujung tombak prestasi masa depan olahraga Indonesia. Kenapa bisa begitu? Karena calon-calon juara lahir dari sekolah. Calon-calon juara atlet masa depan Indonesia lahir dari tangan mereka. Merekalah yang pertama menemukan,” ujarnya.

Selain fokus pada identifikasi potensi, pelatihan ini juga menekankan pentingnya penguatan kemampuan gerak dasar dan pengalaman olahraga yang menyenangkan dalam perkembangan anak. Dengan menerapkan konsep FAMM, guru didorong untuk menciptakan aktivitas gerak yang bervariasi, aktif, dan menyenangkan, sehingga anak-anak memiliki fondasi gerak yang baik sebelum diarahkan ke cabang olahraga tertentu.

Integrasi Data dan Pengembangan Berkelanjutan

Pemetaan potensi siswa yang dilakukan akan terintegrasi dengan sistem Satu Data Kemenpora. Dengan cara ini, data yang diperoleh dari sekolah dapat menjadi informasi penting dalam proses identifikasi dan pembinaan talenta olahraga secara lebih terstruktur. Angga Prananda Bakti, Analis Kebijakan Ahli Madya Kemenpora, menyatakan bahwa kemampuan yang didapatkan oleh guru diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan masing-masing. “Harapan kami para guru olahraga yang sudah melakukan pelatihan ini bisa mengembangkan dan melakukan tes ini di lingkup sekolah, komunitas, dan organisasi yang mereka ikuti sehingga bisa mencari bibit-bibit bakat yang baik lalu disalurkan di ekskul-ekskul yang mereka bina,” jelasnya.

Dengan penerapan ini, siswa yang menunjukkan potensi tertentu akan mendapatkan rekomendasi yang lebih tepat untuk mengembangkan kemampuan mereka, baik melalui kegiatan ekstrakurikuler, klub olahraga, maupun jalur pembinaan dari pemerintah daerah. Lulut Rosvita, seorang guru PJOK di SMP Negeri 5 Malang, mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan pendekatan baru dalam memahami potensi siswa. “Jadi, yang mungkin anak tersebut sebelumnya memilih olahraga bola basket, tetapi berdasarkan LMS yang dia kerjakan, itu dia arahnya ke permainan bola voli,” katanya. Lulut berkomitmen untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh agar siswa bisa mendapatkan arahan yang lebih sesuai dengan potensi dan karakteristik mereka.

Di samping itu, pengembangan talenta olahraga harus berjalan seiring dengan penciptaan lingkungan masyarakat yang mendukung gaya hidup aktif. Yayat Suyatna, Asisten Deputi Olahraga Masyarakat Kemenpora, menyatakan bahwa pemerintah pusat terus mendorong pemerintah daerah untuk menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berolahraga, salah satunya melalui penyelenggaraan Car Free Day Olahraga. “Kami Kemenpora sudah bekerja sama dengan Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri). Kemendagri sudah mengeluarkan surat edaran, di mana ada poin penting bahwa daerah itu harus menyelenggarakan Car Free Day Olahraga,” tuturnya.

Yayat menambahkan bahwa masyarakat yang aktif dan sehat akan memberikan dampak positif terhadap produktivitas, baik untuk anak-anak sekolah maupun pekerja. “Kalau sudah sehat, kalau sudah bugar, berarti kita akan produktif. Anak-anak sekolah akan rajin, semangat belajarnya, para pekerja akan lebih produktif, sehingga cost kesehatan (BPJS) bisa turun,” ujarnya.

Serangkaian program ini menunjukkan bahwa pembangunan olahraga memerlukan ekosistem yang sinergis dari hulu ke hilir. Anak-anak perlu dipetakan potensinya sejak di bangku sekolah, sementara masyarakat dan ekosistem pendidikan juga harus memastikan mereka tetap aktif dan gembira dalam bergerak. Dengan demikian, potensi olahraga dapat diarahkan ke pembinaan lanjutan yang lebih terstruktur. Kemenpora berharap bahwa model identifikasi bakat yang dipadukan dengan penguatan literasi fisik ini dapat terus dikembangkan menjadi sistem pembinaan nasional yang diterapkan di seluruh daerah.

Tidak ada tag untuk artikel ini

Artikel Terkait