Kontrak yang ditandatangani Jorge Lorenzo dengan Ducati menjadi salah satu kesepakatan paling signifikan dalam sejarah MotoGP. Namun, saat ini, pola pembayaran dengan gaji tetap yang tinggi seperti yang diterima Lorenzo dianggap semakin jarang, karena tim lebih memilih sistem yang mengandalkan bonus berdasarkan performa.
Pada akhir 2016, Lorenzo memutuskan untuk meninggalkan Yamaha dan bergabung dengan Ducati untuk musim 2017. Kepindahan ini menjadi salah satu transfer paling bersejarah dalam dunia MotoGP, di mana Ducati berani memberikan kontrak dengan nilai yang sangat tinggi kepada juara dunia tiga kali tersebut. Meskipun demikian, investasi besar ini tidak sepenuhnya memberikan hasil yang diharapkan. Lorenzo berhasil meraih tiga kemenangan bersama Ducati, tetapi tidak mampu menjadi kandidat utama dalam perebutan gelar, sementara Andrea Dovizioso tampil lebih konsisten dan menjadi pesaing terdekat Marc Marquez.
Perubahan dalam Struktur Gaji Pembalap
Setelah dua musim yang tidak memenuhi ekspektasi, posisi Lorenzo di Ducati mengalami perubahan. Ricard Jove, seorang mantan pembalap yang kini berperan sebagai pengamat dan manajer, mengungkapkan bahwa Lorenzo menerima gaji tetap sekitar 12 juta Euro per musim (sekitar Rp 200 miliar pada saat itu). Menurut Jove, angka tersebut kini semakin sulit ditemukan dalam kontrak pembalap MotoGP modern.
Jove menjelaskan, tim saat ini cenderung mengurangi gaji pokok dan lebih memilih untuk mengalihkan sebagian besar pendapatan ke dalam bentuk bonus berdasarkan hasil. “Biasanya ada gaji pokok tetap, tetapi belakangan semuanya bergeser ke pembayaran variabel karena itulah yang diinginkan semua pihak: hasil,” ungkap Jove dalam sebuah podcast. “Jika semuanya berjalan baik, Anda bisa menghasilkan banyak uang dan mereka senang membayarnya. Jika hasilnya buruk, Anda tidak mendapatkannya.”
Era Baru Kontrak Pembalap MotoGP
Jove juga menilai bahwa kontrak senilai 12 juta Euro yang diterima Lorenzo merupakan bagian dari era lama MotoGP. “Kontrak besar senilai 12 juta Euro seperti pada era Lorenzo dan lainnya, saya pikir semuanya sekarang bergerak ke arah yang lebih rendah. Gaji di atas enam atau tujuh juta Euro saat ini sudah dianggap sangat besar,” ujarnya.
Ducati sendiri pernah mengakui bahwa kontrak Lorenzo adalah investasi yang sangat besar. CEO Ducati, Claudio Domenicali, pada tahun 2018 menyatakan bahwa kesepakatan tersebut merupakan langkah luar biasa yang tidak akan menjadi pola mereka di masa depan. Menariknya, pola kontrak Marc Marquez bersama Ducati juga disebutkan lebih berfokus pada performa, dengan gaji pokok sekitar tiga juta Euro, tetapi dengan bonus kemenangan dan gelar yang dapat meningkatkan pendapatannya secara signifikan.
Model kontrak ini memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Tim tidak perlu menanggung beban gaji yang besar ketika hasil tidak sesuai harapan, sementara pembalap tetap memiliki kesempatan untuk mendapatkan bayaran tinggi jika mampu meraih kemenangan dan gelar. Dengan perubahan pola tersebut, kesepakatan fantastis seperti yang dimiliki Jorge Lorenzo kemungkinan besar akan semakin sulit untuk terulang di MotoGP.