Logo
Berita Olahraga

Kisah Inspiratif Kadek Dwi Purwana Yasa di Asian Para Games 2026

Kadek Dwi Purwana Yasa, peraih medali emas di Asian Para Games 2026, membagikan pengalaman berharga setelah meraih prestasi gemilang di Jepang, meskipun harus menghadapi tantangan emosional.

A
Atha Aziz
28 October 2026 5 pembaca
kompas.com Sumber: kompas.com
I Kadek Dwi Purwana Yasa saat bertemu KOMPAS.com di Solo, Selasa (27/10/2026).(KOMPAS.com/Thomas Wardana)
I Kadek Dwi Purwana Yasa saat bertemu KOMPAS.com di Solo, Selasa (27/10/2026).(KOMPAS.com/Thomas Wardana)

Atlet lempar cakram I Kadek Dwi Purwana Yasa berhasil meraih medali emas dalam Asian Para Games 2026 yang berlangsung di Aichi-Nagoya, Jepang. Keberhasilan tersebut diraih pada Selasa (20/10/2026) di Stadion Paloma Mizuho, di mana ia tampil sebagai yang terbaik di nomor klasifikasi F57. Kadek Dwi, yang dikenal sebagai atlet unggulan, memiliki catatan luar biasa dengan rekor dunia lemparan sejauh 48,68 meter yang dicetak pada Kejuaraan Dunia di Meksiko pada 22 Juli 2026.

Meskipun menjabat sebagai pemegang rekor dunia, Kadek Dwi tetap berkomitmen untuk tampil tanpa beban dan fokus pada penampilannya. Ia memulai pertandingan dengan lemparan sejauh 46,79 meter, lalu meningkat menjadi 47,17 meter pada percobaan kedua. Puncak penampilannya terjadi pada lemparan ketiga, di mana ia berhasil melampaui rekor dunia miliknya sendiri dengan jarak 49,75 meter. Catatan ini membuat lawan-lawannya kesulitan untuk mengejar.

Persaingan Ketat dan Pencapaian Luar Biasa

Dari enam atlet lainnya yang berkompetisi, tidak ada yang mampu menyamai pencapaian Kadek. Atlet dari Uzbekistan, Yorkinbek Odilov, menempati posisi kedua dengan lemparan 45,10 meter, sementara Hussein Khazaee dari Irak berada di urutan ketiga dengan jarak 45,06 meter.

Dalam kesempatan berbagi cerita, Kadek Yasa mengungkapkan momen-momen penting saat medali emas berhasil diraihnya. Ia menjelaskan bahwa lemparan ketiganya menjadi kunci keberhasilannya. "Waktu itu cuma fokus aja sama teknik, mental, sama instruksi dari pelatih. Terutama sih teknik dan power speed-nya," ungkapnya saat ditemui di Solo pada Selasa (27/10/2026).

Emosi dan Dukungan Keluarga

Kadek Yasa merasa termotivasi untuk memberikan lemparan terbaiknya. Ia menyampaikan, "Ya harus kayak gitu (lemparan terbaik). Mungkin setiap lemparan itu harus naik-naik." Namun, ada momen emosional yang membuatnya menangis saat melakukan lemparan tersebut, teringat akan orang tuanya. "Tapi waktu itu udah keluar air mata mungkin udah bawa emosi duluan," katanya, mengisahkan perasaannya saat bertanding di tengah duka setelah kehilangan sang Ayah.

Menjelang kejuaraan, Kadek juga menghadapi tantangan kesehatan, termasuk sakit menjelang pertandingan. "Tantangannya mungkin cuma cuaca yang tidak tentu. Sama mungkin kemarin itu, aku dua hari sebelum tanding itu ada sedikit batuk pilek," jelasnya. Meskipun demikian, dukungan dari keluarga dan masyarakat di daerah asalnya sangat berarti baginya. "Mungkin ya karena sudah dari kemarin itu, latihan yang kedua ada di support latihan, yang ketiga di dukung sama orang tua juga, dan semua warga-wargaku itu mendukung juga," tutupnya.

Artikel Terkait