Logo
Berita Olahraga

KOI Dorong Integrasi Ekosistem Olahraga untuk Meningkatkan Prestasi

Komite Olimpiade Indonesia (KOI) menekankan pentingnya transformasi integrasi ekosistem olahraga di Indonesia untuk mencapai prestasi yang lebih baik di tingkat internasional. Hal ini disampaikan oleh...

E
Elvira Adhitama
09 July 2026 33 pembaca
KOI Lakukan Kunjungan ke AS. 18-29 Juni 2026.(Foto: dok.KOI)
KOI Lakukan Kunjungan ke AS. 18-29 Juni 2026.(Foto: dok.KOI)

Chicago - Komite Olimpiade Indonesia (KOI) menekankan perlunya transformasi dalam integrasi ekosistem olahraga di Indonesia. Langkah ini diambil untuk meningkatkan prestasi di arena internasional. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua KOI, Raja Sapta Oktohari, saat mengikuti International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat dari tanggal 18 hingga 29 Juni yang lalu.

Okto bersama sembilan delegasi dari NOC Indonesia, termasuk Bendahara Tommy Hermawan Lo, anggota Komite Eksekutif Josephine Tampubolon, Krisna Bayu, dan Greysia Polii, serta Wakil Sekretaris Jenderal Cresida Mariska, Direktur Tim Indonesia Richard Sam Bera, Safeguarding Officer Tabitha Charmaine Sumendap, Project Strategist Tara Talitha, dan Konsultan Media dan Public Relations Brigitha Sesilya, mengikuti program ini.

Pembelajaran dari Amerika Serikat

Kunjungan ini dianggap sebagai momentum penting untuk memperkuat ekosistem olahraga, yang mencakup integrasi pembinaan atlet sejak usia dini, tata kelola yang baik, pendanaan olahraga, pemasaran olahraga, serta peran akademik dalam pengembangan atlet. Okto menilai bahwa Amerika Serikat merupakan salah satu referensi dalam pembinaan olahraga, mengingat negara tersebut secara konsisten berada di peringkat teratas dalam setiap penyelenggaraan Olimpiade, bersaing dengan China dan Inggris Raya.

"Indonesia adalah bangsa besar dengan 280 juta penduduk dan merupakan negara dengan populasi terbesar keempat setelah AS. Kita memiliki potensi, dan melalui IVLP, kami dapat melihat bagaimana AS membangun jalur pembinaan atlet dari scouting, usia muda, remaja, hingga elite, yang ditopang oleh ekosistem olahraga dan industri yang sudah sangat berkembang dan kuat. Semua sektor, mulai dari kampus, pengelolaan organisasi, pendanaan, industri, pemasaran olahraga, anti-doping, ilmu olahraga, hingga kewirausahaan menjadi pilar-pilar ekosistem olahraga AS," jelas Okto.

Implementasi Konsep Pembinaan di Indonesia

Okto menekankan bahwa salah satu pelajaran paling berharga dari program ini adalah pentingnya membangun prestasi olahraga melalui pendekatan yang menyeluruh. "Prestasi membutuhkan ekosistem yang kuat, terintegrasi, dan berkelanjutan. AS membangun olahraga sebagai ekosistem yang berjenjang, termasuk keterlibatan kampus sebagai jalur bakat atlet nasional melalui NCAA. Konsep pembinaan ini juga dapat diadopsi di Indonesia," tambahnya.

Dia juga berharap bahwa hasil dari IVLP dapat dilaporkan kepada Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, sehingga konsep yang baik dapat dikaji dan diadaptasi sesuai dengan kebutuhan olahraga di Indonesia. Selama program IVLP, KOI mengunjungi empat negara bagian, yaitu Chicago, Indianapolis, Colorado Springs, dan Los Angeles. Di Chicago, mereka terlibat dalam penyelenggaraan Indonesian American Games yang diinisiasi oleh diaspora Indonesia.

Di Indianapolis, KOI berdiskusi dengan Kepala Pelatih Renang Indiana University, Ray Looze, serta mengunjungi fasilitas olahraga kampus dan Indiana Sports Corp. Sementara di Colorado Springs, yang dikenal sebagai Olympic City, delegasi KOI melakukan diskusi dengan United States Olympic & Paralympic Committee (USOPC) dan United States Anti-Doping Agency (USADA), serta mengunjungi U.S. Olympic & Paralympic Museum.

"Dari USOPC, kami mendapat banyak masukan positif, salah satunya model pendanaan yang ditopang oleh berbagai sumber, mulai dari sponsorships, broadcasting rights, licensing, donations, hingga commercial partnerships, serta private fundraising melalui foundation untuk menarik dukungan dari individu kaya, filantropis, dan komunitas bisnis sehingga dapat menciptakan fondasi keberlanjutan finansial yang kuat dalam mendukung Team USA," ungkap Okto.

Program ini diakhiri di Los Angeles, di mana KOI mengunjungi Universitas California yang akan dijadikan sebagai kampung atlet untuk Olimpiade 2028. Okto menilai bahwa peran kampus dalam sistem olahraga AS memberikan pelajaran penting bagi Indonesia, di mana universitas tidak hanya berfungsi sebagai tempat pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pembinaan atlet, riset, ilmu olahraga, kompetisi, dan pengembangan karakter.

Dia berharap IVLP dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan yang lebih luas, serta menjadi dasar kolaborasi yang lebih erat antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam memperkuat olahraga, pendidikan, kepemimpinan, dan diplomasi antar masyarakat. "Olahraga adalah instrumen pembangunan bangsa, diplomasi, dan investasi jangka panjang bagi generasi muda. Dengan ekosistem yang kuat, tata kelola yang baik, pendanaan yang berkelanjutan, dan pembinaan yang konsisten, Indonesia dapat membangun fondasi yang lebih kokoh menuju prestasi dunia dan Olimpiade," tutup Okto.

Juru Bicara Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jamie Ravetz, menyatakan bahwa IVLP merupakan bagian dari komitmen AS untuk memperkuat kerja sama dan pertukaran pengetahuan dengan Indonesia melalui berbagai bidang, termasuk olahraga. "Amerika Serikat senang bisa menjadi tuan rumah program International Visitor Leadership Program bagi delegasi NOC Indonesia. Olahraga selalu menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat kedua negara kita, dan kami yakin bahwa wawasan serta hubungan yang terjalin selama program ini akan memperkuat masa depan olahraga Indonesia sekaligus memperkokoh kemitraan yang telah lama terjalin antara kedua negara kita," kata Ravetz.

Artikel Terkait