Logo
Berita Olahraga

Menjadi Pelari: Perjalanan Romi Falindo Menuju Marathon Pertama

Romi Falindo, anggota Komunitas Lari Topscore Running dari Depok, berbagi pengalaman transformasi hidupnya melalui olahraga lari. Ia bersiap untuk mengikuti marathon pertama dalam Jakarta Running Fest...

A
Atha Aziz
21 October 2026 16 pembaca
kompas.com Sumber: kompas.com
Komunitas lari Topscore Running mempersiapkan diri jelang ajang Jakarta Running Fest 2026 pada 22-25 Oktober.(Dok. Jakarta Running Fest)
Komunitas lari Topscore Running mempersiapkan diri jelang ajang Jakarta Running Fest 2026 pada 22-25 Oktober.(Dok. Jakarta Running Fest)

KOMPAS.com - Olahraga lari adalah aktivitas yang sederhana namun memberikan dampak besar bagi kehidupan seseorang. Hal ini dirasakan oleh Romi Falindo, seorang anggota Komunitas Lari Topscore Running yang berasal dari Depok. “Lari itu olahraga yang simpel, tetapi dampaknya luar biasa dalam mengubah pola hidup, saya jadi terbiasa bangun pagi, tidur teratur, dan menjaga asupan tubuh,” ungkap Romi. “Yang paling berkesan, lari mengajarkan saya untuk tidak cepat puas dan selalu berani menantang diri sendiri,” tambahnya setelah menyelesaikan latihan lari sejauh 5 kilometer bersama rekan-rekannya pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Persiapan Menuju Marathon Pertama

Romi kini tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti marathon pertamanya sejauh 42,195 kilometer dalam kategori Hydroplus Marathon, yang merupakan bagian dari Jakarta Running Festival 2026. Event ini dijadwalkan berlangsung di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada 22-25 Oktober mendatang. Setelah tiga tahun berlatih lari, Romi memulai perjalanan dari jarak 5 kilometer, kemudian meningkat ke 10 kilometer, dan mengikuti half marathon sebelum akhirnya memutuskan untuk menantang diri di nomor full marathon. “JRF adalah panggung yang pas untuk marathon pertama saya, karena ini yang pertama, target utama saya bukan sekadar waktu cepat, melainkan finis dengan selamat dan bahagia sebelum batas cut off time,” jelasnya.

Strategi Latihan dan Hidrasi

Untuk mempersiapkan tantangan marathon sejauh 42,195 kilometer, Romi menjalani program latihan yang mencakup lari interval, lari tempo, dan lari jarak jauh setiap akhir pekan bersama komunitasnya. Persiapan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan daya tahan fisik, tetapi juga memperhatikan kebutuhan cairan dan elektrolit selama berlari, terutama saat menempuh jarak jauh. “Saat lari jarak jauh, musuh utama pelari adalah kehilangan cairan tubuh dan elektrolit, begitu elektrolit tubuh turun, fisik langsung drop dan rawan keram,” ujar Romi. “Makanya, manajemen hidrasi itu sangat penting, prinsip saya, jangan menunggu haus baru minum,” tambahnya. Ia juga berencana mengikuti strategi hidrasi yang telah disiapkan dan memanfaatkan stasiun minuman isotonik selama perlombaan untuk menjaga kebutuhan cairan tubuh.

“Persiapan menuju garis finis marathon adalah sebuah perjalanan dedikasi, ini bukan hanya tentang seberapa jauh kaki melangkah, melainkan bagaimana pelari menjaga dan mendengarkan kebutuhan tubuh mereka sepanjang prosesnya,” kata Yose Moriza, Group Brand Head Hydroplus. “Melalui komitmen kami sebagai minuman isotonik resmi di myBCA Jakarta Running Festival 2026, Hydroplus Isotonic Drink ingin menjadi bagian dari setiap keringat dan perjuangan para pelari,” imbuhnya. “Kami berharap Hydroplus Isotonic Drink dapat membantu para pelari menjaga performa mereka tetap stabil dan optimal selama persiapan menuju hari perlombaan dan sepanjang perjalanan menuju garis finis,” tutup Yose.

Jakarta Running Festival 2026 akan berlangsung pada 22–25 Oktober 2026 di kawasan GBK. Kategori marathon dalam acara ini telah mendapatkan predikat World Athletics Label, sedangkan kategori half marathon menjadi ajang lari jalan raya pertama di Indonesia yang meraih predikat World Athletics Gold Label. Penyelenggara juga telah menyiapkan Zona Sorak di sepanjang rute untuk memberikan semangat dan dukungan kepada para peserta.

Artikel Terkait