Natasha Cloud memutuskan untuk tidak memperpanjang diskusi mengenai konfrontasinya dengan mantan pemain NBA, Enes Kanter Freedom. Menjelang pertandingan antara Chicago Sky dan New York Liberty pada hari Sabtu (29/8), Cloud menegaskan bahwa perhatian utamanya adalah pada isu-isu yang berdampak langsung bagi perempuan dan anak-anak.
"Saya tidak akan membicarakan apa pun yang terjadi dengan orang yang tidak relevan," ungkap Cloud. "Saya akan fokus pada hal-hal yang benar-benar memengaruhi perempuan dan anak-anak saat ini pada 2026." Pemain berusia 34 tahun itu juga menyebutkan beberapa masalah penting seperti kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, dan kerawanan pangan yang perlu mendapatkan perhatian lebih.
Konfrontasi di Lapangan
Konfrontasi antara Cloud dan Freedom terjadi dalam pertandingan Chicago melawan Indiana Fever pada minggu lalu. Saat itu, Freedom terlihat duduk di dekat baseline dengan mengenakan kaus hitam yang memuat pernyataan tentang definisi perempuan. Ketika Fever meminta timeout setelah Cloud mencetak angka dengan waktu tersisa 1 menit 22 detik di kuarter ketiga, Cloud melakukan chest bump dengan rekan setimnya, Aicha Coulibaly, sebelum berbalik dan berjalan menuju arah Freedom. Cloud terlihat berteriak dan menunjuk ke arah Freedom.
Freedom kemudian berdiri, merentangkan tangannya, dan melangkah ke lapangan sebelum petugas keamanan dan beberapa pemain Sky menghalangi keduanya untuk mencegah situasi semakin memanas. "Saya tidak akan membicarakan ancaman yang tidak relevan terhadap kehidupan kami," tegas Natasha Cloud. "Saya ingin membicarakan persoalan nyata yang dihadapi perempuan."
Keputusan Pemilik Tim dan Isu Transgender di WNBA
Michael Alter, pemilik Chicago Sky, kemudian melarang Freedom untuk hadir di pertandingan kandang Chicago di masa mendatang. Cloud menyambut baik keputusan tersebut, menilai hal itu sebagai bentuk perlindungan bagi para pemain. "Saya ingin semua orang mendengar bahwa itulah bentuk perlindungan," kata Cloud.
Sebelumnya, Freedom dan mantan pemain NBA lainnya, Royce White, mengumumkan niat mereka untuk mengikuti proses WNBA Draft dengan mengidentifikasi diri sebagai perempuan. Namun, beberapa sumber menyatakan kepada ESPN bahwa keduanya tidak memenuhi syarat untuk bermain di WNBA. Isu mengenai kemungkinan perempuan transgender berkompetisi di WNBA kembali menjadi sorotan, mengingat hingga saat ini belum ada perempuan transgender yang bermain di liga tersebut.
Perjanjian kerja bersama WNBA menyatakan bahwa liga ini diperuntukkan bagi perempuan, namun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai identitas gender atau jenis kelamin saat lahir. Natasha Cloud menolak jika WNBA dijadikan arena untuk pertarungan politik atau budaya, dan berharap perhatian publik lebih difokuskan pada perkembangan kompetisi di lapangan, termasuk peningkatan jumlah penonton musim ini. Pertandingan Sky melawan Fever pekan lalu berhasil menarik 3,3 juta pemirsa, angka tertinggi WNBA sejak liga ini berdiri pada tahun 1997.
"Saya tidak ingin selalu menjadi orang yang harus bersuara. Tetapi seseorang memang harus melakukannya," tutup Cloud.