Logo
Berita Olahraga

Novela dan Beatrice Ubah Kekecewaan di Semifinal Padel Menjadi Motivasi Raih Medali Perunggu

Pasangan ganda putri Indonesia, Novela Putria dan Beatrice Gumulya, mengalami kekalahan di semifinal Asian Games 2026, namun bertekad untuk bangkit dan berjuang meraih medali perunggu.

D
Dharma Kusuma
03 October 2026 23 pembaca
Di balik gemuruh sorak penonton Nagoya City Higashi Sports Center, Jumat (2/10), ada raut lelah dua srikandi padel Indonesia, Novela Putria dan Beatrice Gumulya.(foto:Gilang/kemenpora.go.id)
Di balik gemuruh sorak penonton Nagoya City Higashi Sports Center, Jumat (2/10), ada raut lelah dua srikandi padel Indonesia, Novela Putria dan Beatrice Gumulya.(foto:Gilang/kemenpora.go.id)

Nagoya: Dalam dunia olahraga, seringkali kita dihadapkan pada momen yang penuh emosi. Di tengah riuhnya sorakan penonton di Nagoya City Higashi Sports Center pada Jumat (2/10), terlihat wajah lelah namun tetap tersenyum dari dua atlet padel Indonesia, Novela Putria dan Beatrice Gumulya. Perjalanan mereka di babak semifinal nomor ganda putri Asian Games 2026 terhenti setelah menghadapi pasangan tuan rumah Jepang, Saki Tsukamoto dan Kae Tokumoto, dengan skor 0-2 dalam dua set langsung.

Di balik hasil tersebut, terdapat perjuangan yang panjang dan beban yang harus mereka tanggung, serta kebanggaan yang terjalin di antara keduanya. Memasuki arena pertandingan, tekanan bermain di depan pendukung lawan memberikan dampak emosional tersendiri. Di awal pertandingan, rasa frustrasi sempat muncul ketika serangan lawan sulit untuk dibendung. “Memang kadang-kadang lawan main lebih bagus dari kita. Bikin kita akhirnya sedikit jujur aja ada frustrasi juga di awal-awal,” ungkap Beatrice setelah pertandingan.

Namun, menyerah bukanlah pilihan bagi mereka yang datang dari Tanah Air. Di tengah ketertinggalan dan rasa frustrasi yang menghimpit, Novela dan Beatrice saling memberikan dukungan, berupaya untuk menghidupkan kembali harapan di setiap permainan yang melelahkan. “Tapi kita tetap berjuang sampai akhir, berusaha cari jalan gimana caranya bisa dapetin poin,” tambah Beatrice.

Perjuangan yang Berat

Novela juga mengakui betapa menantangnya pertandingan ini, yang menuntut stamina dan ketahanan mental yang luar biasa. Pertukaran pukulan yang terjadi hingga puluhan kali dalam satu poin membutuhkan dedikasi fisik dan mental yang tinggi. Ditambah lagi, sorakan publik tuan rumah semakin meningkatkan semangat lawan. “Ya mereka main di kandang sendiri jadi ngerasa lebih bebas,” jelas Novela.

Meskipun mengalami kekalahan, hal ini tidak mengurangi rasa saling menghargai dan kehangatan di antara mereka. Di saat-saat paling sulit, Novela justru mengungkapkan rasa bangga yang mendalam terhadap pasangannya. “Apapun itu, aku udah bangga ada di sini, bangga sama Kak Bea (Beatrice) juga. Kita sudah main dengan maksimal, tapi hasil belum yang diharapkan,” tutur Novela.

Fokus Menuju Pertandingan Berikutnya

Keduanya kemudian mengalihkan perhatian mereka pada pertandingan selanjutnya. Bagi Novela dan Beatrice, perjuangan mereka belum berakhir. Dengan kepala tegak, mereka bersiap untuk bertanding merebut medali perunggu melawan pasangan Filipina, Danna Abad dan Josea Malazarte. “Kita bakal fokus buat perebutan perunggu. Pokoknya kita gak mau lepas lagi,” jelas Novela.

Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, Taufik Hidayat, yang menyaksikan langsung pertandingan tersebut, tetap memberikan apresiasi atas usaha yang ditunjukkan oleh Novela dan Beatrice. “Tetap semangat, besok kembali lebih kuat dan semoga bisa berhasil,” pungkas Taufik.

Tidak ada tag untuk artikel ini

Artikel Terkait