Banten: Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) bersama dengan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menyelenggarakan Pelatihan Wasit Futsal Lisensi Internasional yang diikuti oleh 60 wasit muda dari berbagai daerah. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 31 Agustus hingga 4 September 2026 dan merupakan bagian dari Preparatory Course Pro Futsal League 2026/27.
Peserta pelatihan adalah wasit terpilih dari seluruh Indonesia yang telah melalui proses seleksi oleh Pengurus Provinsi (Pengprov) dan Pengurus Besar/Pusat (PB/PP) cabang olahraga. Portofolio mereka kemudian diverifikasi melalui sistem digital SiTENOR Kemenpora sebelum dinyatakan lolos untuk mengikuti pelatihan.
Fokus pada Peningkatan Kapasitas Wasit
Leny Kurnia, Plt. Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Prestasi Kemenpora RI, menyatakan, “Kami dari Kemenpora sangat fokus untuk meningkatkan kapasitas dan sertifikasi tenaga keolahragaan di Indonesia. Dari jenjang nasional, kita tingkatkan lagi agar para wasit bisa mendapatkan lisensi internasional. Harapannya, karier mereka di tingkat internasional bisa lebih luas dan dapat memimpin berbagai ajang futsal bergengsi.”
Pelatihan ini dilaksanakan di dua lokasi di Tangerang, Banten. Grand Serpong Hotel digunakan untuk sesi teori, sementara Vini Vidi Vici Futsal Arena menjadi tempat untuk pengujian fisik dan praktik lapangan. Untuk memastikan materi yang diajarkan sesuai dengan standar internasional, Kemenpora dan PSSI menghadirkan instruktur yang direkomendasikan oleh AFC dan FIFA, yaitu Badrul Hisham dari Malaysia dan Daniel Wong dari Singapura, yang dibantu oleh instruktur lokal dari PSSI, seperti Ikhwan Budi Laksono, Rodhi Wahono, dan Tri Ngudi.
Pentingnya Pembaruan Teknik Perwasitan
Badrul Hisham Kalam, salah satu instruktur, menjelaskan bahwa pelatihan ini sangat penting untuk meningkatkan kemampuan wasit di Indonesia. Ia menekankan perlunya pembaruan teknik perwasitan agar sesuai dengan perkembangan futsal modern. “Program ini begitu penting untuk para wasit di Indonesia untuk lagi mengembangkan bakat mereka untuk mendepani perjalanan mereka di perwasitan untuk futsal referee Indonesia. Dan juga yang penting sekali, kursus ini adalah untuk meng-update segala teknik perwasitan yang terkini,” ujarnya.
Badrul juga menambahkan bahwa materi pelatihan disusun berdasarkan evaluasi penampilan wasit pada kompetisi sebelumnya, sehingga peserta dapat memahami kekurangan yang perlu diperbaiki. “Materi-materi ini kita usahakan setelah kita mengambil kira bagaimana pencapaian wasit terdahulu di liga yang tahun lepas,” jelasnya.
Menurut Badrul, Indonesia memiliki banyak talenta wasit futsal, dengan beberapa di antaranya sudah mampu berkompetisi di tingkat internasional. “Wasit Indonesia mempunyai talent yang banyak dan juga sudah ada dua atau tiga wasit di peringkat internasional dan mereka telah menunjukkan kompetensinya dalam perwasitan,” katanya.
Ia juga menilai kehadiran wasit muda dapat menciptakan persaingan positif dengan wasit yang lebih berpengalaman, yang pada gilirannya dapat mendorong peningkatan kemampuan semua wasit. “Saya lihat di sini banyak talent-talent yang muda yang bisa challenge wasit-wasit yang sudah experience dari Indonesia ini,” ujarnya.
Salah satu peserta pelatihan, Wahyu Wicaksono dari Yogyakarta, mengungkapkan antusiasmenya terhadap kegiatan ini. Ia menyebut pelatihan ini sebagai persiapan penting sebelum memimpin pertandingan di Liga Pro Futsal Indonesia. “Kegiatan ini sangat penting karena ini adalah persiapan untuk saya dan teman-teman menjadi wasit di Liga Pro Futsal Indonesia,” tuturnya.
Wahyu juga berharap pelatihan ini dapat meningkatkan kesiapan para wasit dalam menghadapi Liga Pro Futsal 2026/2027. “Tentunya harapannya setelah melakukan pelatihan dari Kemenpora ini akan menjadi saya sebagai wasit bisa lebih persiapan, lebih baik lagi dalam mempersiapkan diri,” ujarnya.
Kemenpora berharap bahwa pelatihan ini dapat memperkuat kualitas dan regenerasi wasit futsal di Indonesia, sehingga para wasit mampu memimpin pertandingan dengan integritas dan memiliki daya saing di tingkat internasional.