Jakarta: Menjadi seorang atlet profesional tidak berarti harus mengabaikan pendidikan. Sebaliknya, pendidikan sangat penting bagi atlet untuk menghadapi kehidupan setelah karier olahraga berakhir. Hal ini disampaikan oleh Cokorda Raka Satrya Wibawa, mantan atlet tim nasional basket Indonesia yang kini berkarier sebagai aparatur sipil negara di Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
Perjalanan Cokorda dalam dunia basket tidak dimulai sejak usia dini. Ia mengenal olahraga ini saat masih di bangku SD, namun baru benar-benar menekuni basket saat duduk di kelas 3 SMP, sekitar usia 14-15 tahun. Sebelum fokus pada basket, ia telah mencoba berbagai cabang olahraga, seperti tenis, sepak bola, bulu tangkis, dan renang. Selain itu, ia juga memiliki minat besar dalam musik dan menguasai beberapa alat musik, termasuk gitar, piano, keyboard, dan drum.
Perjalanan Menuju Karier Profesional
Bakatnya dalam basket semakin terlihat berkat postur tubuhnya yang tinggi, dan sang kakak mendorong pelatih untuk lebih serius membimbingnya. "Teman-teman saya waktu itu sudah jago-jago, sedangkan saya baru belajar. Dari mulai belajar lay-up sampai akhirnya terus berlatih,” ungkapnya saat berbicara di podcast di Kantor Kemenpora Senayan, Jakarta.
Perjalanan panjangnya membawanya ke level profesional dan menjadi bagian dari timnas Indonesia. Salah satu momen paling berkesan baginya terjadi saat memperkuat timnas pada SEA Games 2001, di mana Indonesia meraih medali perak. Menurutnya, pencapaian itu sangat berarti dalam sejarah basket Indonesia karena persaingan di Asia Tenggara sangat ketat. "Setiap kemenangan pasti mengesankan. Tapi saat timnas Indonesia di SEA Games 2001 mendapat medali perak, saya kebetulan ada di tim itu. Itu menjadi salah satu momen sejarah basket Indonesia,” jelas pria yang memiliki tinggi 205 cm ini.
Pendidikan dan Manajemen Waktu
Di tengah kesibukannya sebagai atlet, Cokorda tetap menjalani pendidikan. Ia menyadari bahwa karier atlet memiliki batasan waktu, sehingga penting untuk mempersiapkan kehidupan setelah pensiun. "Olahraga prestasi, baik sebagai pelatih maupun atlet, umurnya tidak panjang, terutama atlet. Setelah tidak menjadi atlet, kita mau jadi apa? Kalau punya latar belakang pendidikan yang bagus, masih ada modal untuk terjun ke kehidupan berikutnya,” tambahnya.
Ia mengaku pernah mengalami kesulitan ketika jadwal pertandingan bertabrakan dengan ujian. Namun, ia berhasil mengatasi situasi tersebut dengan manajemen waktu yang baik. Ia bahkan pernah mengikuti ujian di pagi hari sebelum berangkat ke Solo untuk bertanding pada malam harinya. Hal serupa juga terjadi saat timnas bertanding di Singapura, di mana ia mengikuti ujian terlebih dahulu sebelum bergabung dengan rekan-rekannya.
Menurutnya, dukungan dari lingkungan sangat penting. Orang tuanya yang berlatar belakang akademisi selalu mendorong agar pendidikan dan olahraga dapat dijalani secara bersamaan. "Kalau bisa jalan dua-duanya, kenapa enggak. Mereka juga yakin saya bisa," ujarnya.
Saat ini, Cokorda melihat banyak kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan prestasi olahraga sekaligus pendidikan. Ia menyoroti berbagai program beasiswa olahraga di jenjang pendidikan yang dapat menjadi peluang bagi atlet muda untuk meraih pendidikan yang lebih baik. "Olahraga itu salah satu jalan untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Sekarang sebenarnya lebih mudah dibanding zaman dulu. Apalagi di era digital, informasi lebih mudah didapat," katanya.
Setelah menjadi ASN Kemenpora melalui jalur prestasi, Cokorda juga merasakan adanya kesempatan untuk berkontribusi di dunia olahraga sambil menjalankan tugas sebagai aparatur negara. Ia mengakui ada perbedaan antara kehidupan sebagai atlet dan birokrasi. "Kalau di atlet profesional kita dilayani. Kalau di birokrasi, kita melayani," ujarnya.
Bagi Cokorda, kunci untuk menjalani berbagai peran tersebut adalah disiplin dan kemampuan beradaptasi. "Keep moving forward. Semua pasti ada halangannya. Kita harus beradaptasi dan mencari jalan untuk mengatasinya," katanya. Ia juga mengingatkan kepada anak muda yang ingin berkarier di dunia olahraga agar tidak takut untuk mengejar prestasi sembari tetap mengutamakan pendidikan. "Kekalahan itu pasti ada, apalagi sebagai atlet. Kekalahan memang pukulan berat, tetapi masih ada hari esok yang harus kita lalui dengan memperbaikinya. Kekalahan itu hanya satu langkah lagi menuju kemenangan," pungkasnya.