Logo
Basket

Peralihan Kepemimpinan di WNBA: Tantangan Baru Pasca Pensiunnya Cathy Engelbert

Pensiunnya Cathy Engelbert sebagai komisaris WNBA pada akhir 2026 menandai perubahan penting bagi liga yang telah berkembang pesat di bawah kepemimpinannya. Penggantinya akan menghadapi berbagai tanta...

A
Arka Wisena
07 September 2026 16 pembaca
WNBA dinilai berada dalam kondisi yang jauh lebih kuat dibandingkan ketika Cathy Engelbert mulai menjabat. (Foto: AP)
WNBA dinilai berada dalam kondisi yang jauh lebih kuat dibandingkan ketika Cathy Engelbert mulai menjabat. (Foto: AP)

Pensiunnya Cathy Engelbert sebagai komisioner WNBA pada akhir tahun 2026 akan membuka babak baru bagi liga yang telah mengalami pertumbuhan signifikan selama tujuh tahun di bawah kepemimpinannya. Penggantinya tidak hanya akan mewarisi liga yang lebih besar, tetapi juga harus menghadapi tantangan dalam memperbaiki hubungan dengan para pemain.

Cathy Engelbert mulai memimpin WNBA pada tahun 2019 setelah sebelumnya menjabat sebagai CEO Deloitte. Selama masa kepemimpinannya, liga ini berkembang dari 12 tim menjadi 15 tim dan diperkirakan akan mencapai 18 tim pada tahun 2030. Selain itu, nilai waralaba mengalami peningkatan yang signifikan, dan kesepakatan hak media baru membuat nilai hak siar WNBA mencapai 3,1 miliar dolar AS.

Pencapaian dan Tantangan

Selama masa jabatan Engelbert, dua perjanjian kerja bersama berhasil dicapai, dengan kesepakatan terbaru pada tahun 2026 yang memperkenalkan gaji pemain hingga 1 juta dolar AS serta sistem pembagian pendapatan yang lebih baik. Pertumbuhan bisnis ini menjadi bagian penting dari warisan Engelbert. Namun, hubungan dengan pemain menjadi isu yang mengganggu di akhir masa kepemimpinannya.

Kritik keras datang dari bintang Minnesota Lynx, Napheesa Collier, yang pada September 2025 menyatakan bahwa kepemimpinan Engelbert lalai. Ucapan tersebut didukung oleh sejumlah pemain lainnya. Engelbert berjanji untuk memperbaiki berbagai masalah, tetapi kritik terkait cara liga menangani keselamatan pemain, pelecehan daring, dan masalah perwasitan terus bermunculan. Menurut ESPN, Engelbert dinilai terlalu reaktif dalam menghadapi isu-isu tersebut.

Tugas Berat Pengganti Engelbert

Salah satu contoh dari kritik tersebut adalah ketika pada tahun 2024, ia tidak segera mengecam perilaku rasis yang muncul dalam rivalitas antara Caitlin Clark dan Angel Reese. Engelbert kemudian mengakui bahwa respons awalnya tidak memadai. Keberhasilan penting lainnya selama masa kepemimpinannya adalah keberlangsungan musim 2020 di tengah pandemi COVID-19, di mana seluruh pertandingan dilaksanakan dalam sistem gelembung di Florida, yang membantu meningkatkan perhatian publik terhadap WNBA.

Pengganti Engelbert akan menghadapi tugas yang besar dalam memperbaiki hubungan dengan pemain sekaligus mengelola liga yang semakin kompleks. Beberapa kandidat yang disebut-sebut untuk posisi ini antara lain kepala operasional liga Bethany Donaphin, mantan pemain Swin Cash, dan Nneka Ogwumike yang saat ini menjabat sebagai presiden asosiasi pemain. Komisioner baru diharapkan dapat berperan sebagai diplomat yang mampu menyeimbangkan kepentingan pemain, pemilik tim, penggemar, sponsor, media, dan NBA.

Tantangan lain yang harus dihadapi termasuk ekspansi liga, pertumbuhan global, hubungan dengan liga Unrivaled, penggunaan media sosial, serta pengembangan bola basket putri di tingkat akar rumput. Meskipun demikian, WNBA dinilai berada dalam kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan saat Cathy Engelbert mulai menjabat. Pertumbuhan liga, peningkatan nilai pemain dan waralaba, serta bertambahnya jumlah tim memberikan fondasi yang kuat bagi pemimpin berikutnya untuk melanjutkan ekspansi tersebut.

Artikel Terkait