Logo
Berita Olahraga

Refleksi Persatuan Menjelang 100 Tahun Sumpah Pemuda

Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, mengajak generasi muda Indonesia untuk merenungkan kembali arti persatuan menjelang peringatan 100 Tahun Sumpah Pemuda pada 2028.

A
Atha Aziz
28 October 2026 4 pembaca
kompas.com Sumber: kompas.com
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir saat menghadiri program dialog Kompas TV, Gagas RI edisi khusus Sumpah Pemuda, di Jakarta, Senin (26/10/2026).(Humas Kemenpora)
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir saat menghadiri program dialog Kompas TV, Gagas RI edisi khusus Sumpah Pemuda, di Jakarta, Senin (26/10/2026).(Humas Kemenpora)

Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, mengajak generasi muda Indonesia untuk merefleksikan kembali makna persatuan menjelang peringatan satu abad Sumpah Pemuda yang akan berlangsung pada tahun 2028. Seruan tersebut disampaikan oleh Erick saat berpartisipasi dalam program dialog di Kompas TV, yang merupakan edisi khusus mengenai Sumpah Pemuda, di Studio 1 Menara Kompas, Jakarta Pusat, pada Senin, 26 Oktober 2026.

Erick menekankan bahwa isu kepemudaan harus mendapatkan perhatian lebih dalam konteks pembangunan nasional. Hal ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan persatuan sebagai salah satu dasar dalam pembangunan kepemudaan di Indonesia. Menurutnya, momen satu abad Sumpah Pemuda merupakan kesempatan bagi bangsa untuk mengevaluasi perjalanan kepemudaan dan mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan global, tantangan di dunia kerja, serta kemajuan teknologi.

Persatuan Sebagai Fondasi Pembangunan

Erick menyatakan bahwa persatuan adalah elemen penting dalam membangun bangsa. Ia mengungkapkan bahwa ini juga merupakan salah satu pesan yang disampaikan oleh Presiden Prabowo dalam diskusi mengenai arah pembangunan kepemudaan. “Alhamdulillah ketika saya bertemu dengan Bapak Presiden, kami berdiskusi. Bapak Presiden menyampaikan visi dan misi kepemudaan melalui persatuan,” ungkap Erick. Ia menambahkan, “Saya setuju, karena tidak ada yang namanya pembangunan bangsa dengan perpecahan.”

Menpora juga menyoroti tantangan yang dihadapi oleh organisasi-organisasi kepemudaan yang masih terjebak dalam perpecahan. Ia berpendapat bahwa semangat persatuan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan bukan sekadar menjadi slogan. “Hal ini yang harus menjadi perhatian kita bersama. Kalau kita ingin bicara bangsa dan kemajuan kita, kita harus bicara persatuan. Inilah mimpi-mimpi yang kita harus bangun dan harus refleksikan dalam keseharian,” tegasnya.

Tantangan Pemuda di Era Modern

Erick mengingatkan bahwa semangat Sumpah Pemuda yang dicanangkan pada tahun 1928 menjadi salah satu fondasi penting bagi perjalanan bangsa Indonesia. Pada masa itu, para pemuda dari berbagai daerah dan latar belakang bersatu untuk menyatakan komitmen terhadap satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia. “Hal-hal ini yang tentu mencerminkan kesuksesan kita sampai hari ini. Bhinneka Tunggal Ika menjadi kekuatan,” jelas Erick.

Ia juga menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi pemuda saat ini sangat berbeda dibandingkan dengan tahun 1928. Pada saat itu, perjuangan pemuda berlangsung di tengah kolonialisme, sedangkan generasi sekarang berhadapan dengan perubahan geopolitik, geoekonomi, digitalisasi, dan masalah kesempatan kerja. Meskipun kondisi berbeda, Erick menilai bahwa kedua periode tersebut memiliki kesamaan dalam menghadapi perubahan dunia. Oleh karena itu, generasi muda perlu mempersiapkan diri untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional. “Mirip sebenarnya, yaitu konteks perubahan dunia, di geopolitik, geoekonomi, digitalisasi dan juga pekerjaan, kesempatan bekerja. Itu realitanya saat ini,” tuturnya.

Erick menekankan bahwa peningkatan jumlah pemuda Indonesia yang merupakan bagian dari bonus demografi dapat menjadi kekuatan bagi bangsa, asalkan diimbangi dengan persiapan yang tepat. Namun, jika tidak diimbangi dengan kesempatan kerja yang memadai, hal ini bisa menjadi tantangan. “Di sinilah saya ingin mendengar, yang selama ini dari pengalaman, saya banyak mendengar. Hari ini saya ingin mendengar lagi dari pemuda, dari akademisi, dari tentu insan kepemudaan, dan tentu dari rekan-rekan media, untuk seratus tahun ke depan kita mau ke mana,” ungkapnya.

Pemaparan lebih lanjut mengenai pernyataan Menpora Erick dapat disaksikan di Kompas TV saat program Gagas RI edisi Sumpah Pemuda ditayangkan. Dialog ini akan membahas nilai-nilai yang perlu dimiliki oleh para pemuda Indonesia serta program-program kepemudaan yang sedang digalakkan oleh Kemenpora, terutama dalam menyongsong 100 Tahun Sumpah Pemuda.

Artikel Terkait