Logo
Basket

Strategi Golden State Valkyries dalam Membangun Tim Juara WNBA dalam Dua Tahun

Golden State Valkyries berhasil meraih gelar WNBA 2026 hanya dalam musim kedua mereka, berkat pendekatan tim yang fokus pada pertahanan dan kebersamaan. Keberhasilan ini melampaui target awal pemilik...

E
Eko Prasetyo
01 November 2026 6 pembaca
Golden State Valkyries mencatat sejarah dengan menjuarai WNBA 2026 hanya dalam musim kedua sejak berdiri sebagai tim ekspansi. (Foto: WNBA)
Golden State Valkyries mencatat sejarah dengan menjuarai WNBA 2026 hanya dalam musim kedua sejak berdiri sebagai tim ekspansi. (Foto: WNBA)

Golden State Valkyries menciptakan sejarah dengan meraih gelar WNBA 2026 hanya dalam musim kedua mereka sebagai tim ekspansi. Keberhasilan ini dicapai melalui pembangunan tim yang mengutamakan pertahanan, kerja sama, dan budaya tanpa ego di bawah kepemimpinan pelatih Natalie Nakase dan manajer umum Ohemaa Nyanin. Tim ini memastikan gelar pertama mereka setelah mengalahkan Atlanta Dream dengan skor 68-63 dalam Game 7 Final WNBA yang berlangsung di Chase Center pada Sabtu, 31 Oktober. Pencapaian ini bahkan lebih cepat dari target yang ditetapkan oleh pemilik klub Joe Lacob, yang sebelumnya berharap tim dapat meraih gelar dalam lima tahun pertama.

Pembangunan Tim yang Berfokus pada Identitas

Saat mewawancarai Nakase untuk posisi pelatih kepala pada Oktober 2024, Lacob menyampaikan ambisi besarnya untuk tim. Nakase pun menerima tantangan tersebut dengan tekad untuk mewujudkannya. Setelah wawancara, Nakase mencari saran dari para mentornya tentang cara membangun tim juara. Mereka menyarankan agar dia menciptakan identitas yang jelas dengan merekrut pemain-pemain kompetitif yang bersedia mengutamakan kepentingan tim. Bersama Nyanin, Nakase kemudian membentuk skuad dengan karakter agresif, mengedepankan pertahanan, dan menghindari ego individu.

Melalui draft ekspansi 2024, mereka berhasil mendapatkan Veronica Burton dan Kayla Thornton sebagai fondasi tim, serta Cecilia Zandalasini. Tiffany Hayes kemudian direkrut melalui agen bebas, dan Juste Jocyte menjadi pilihan kelima dalam Draft WNBA 2025. Meskipun sempat diragukan karena tidak memiliki pemain bintang, Golden State Valkyries berhasil menarik perhatian pada musim debut mereka di 2025. Mereka menjadi tim ekspansi pertama dalam sejarah WNBA yang berhasil mencapai playoff di musim pertama.

Kehadiran Pemain Kunci dan Pendekatan Pertahanan

Pencapaian tersebut membuat Golden State semakin menarik bagi pemain berkualitas. Salah satu target utama mereka adalah Gabby Williams, yang akhirnya bergabung setelah meninggalkan Seattle Storm. Kehadiran Williams menjadi sangat penting bagi perkembangan tim, terutama dalam kontribusi ofensif dan pertahanan. Valkyries juga mendatangkan Kiah Stokes dari Las Vegas, yang kemudian menjadi pemain utama setelah Iiana Rupert dipastikan absen sepanjang musim 2026 karena kehamilan. Williams tampil sebagai pemain paling berpengaruh dengan meraih penghargaan MVP Final WNBA 2026, mencatatkan musim terbaiknya dengan rata-rata 14,4 poin per pertandingan dan akurasi tembakan tiga angka sebesar 34,2 persen. Selain itu, Williams juga menjadi runner-up penghargaan Defensive Player of the Year dan masuk dalam tim utama All-Defensive WNBA.

Fondasi keberhasilan lainnya berasal dari pendekatan Nakase yang sangat menekankan pertahanan. Dalam tiga hari pertama pemusatan latihan musim 2026, dia bahkan melarang para pemain untuk menyentuh bola basket. Seluruh sesi difokuskan pada latihan bertahan sebelum mereka mulai mengerjakan aspek permainan lainnya. Pendekatan ini menghasilkan pertahanan terbaik di liga selama musim reguler, di mana Golden State Valkyries hanya kebobolan rata-rata 75,1 poin per pertandingan. Stokes mencatatkan 31 blok sepanjang playoff, menyamai rekor Lisa Leslie untuk jumlah terbanyak dalam sejarah postseason WNBA.

Nakase juga menunjukkan kemampuannya beradaptasi ketika Valkyries tertinggal 1-2 dalam seri final. Setelah mengevaluasi komunikasinya dengan para pemain, dia mengubah susunan pemain utama menjelang Game 4 dengan memasukkan Hayes dan Kaila Charles menggantikan Thornton dan Zandalasini. Keputusan ini membawa perubahan signifikan, di mana Charles mencatatkan plus-minus plus-14, sementara Hayes menyumbangkan 13 poin dalam pertandingan tersebut. Valkyries kemudian berhasil memenangkan dua pertandingan berikutnya untuk memaksakan Game 7 dan akhirnya merebut gelar.

Keberhasilan ini membuktikan bahwa pembangunan tim yang mengutamakan kebersamaan dapat menghasilkan prestasi tanpa harus bergantung pada kumpulan pemain bintang. Nakase, Nyanin, dan para pemainnya berhasil mewujudkan ambisi Lacob jauh lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Artikel Terkait