Dalam perkembangan terbaru di dunia basket Eropa, Yam Madar telah resmi pindah dari Hapoel Tel Aviv untuk bergabung dengan Maccabi Tel Aviv, rival sekota mereka. Proses transfer ini berlangsung dalam suasana yang penuh drama dan kontroversi, seperti yang dijelaskan oleh Arik Shtilman, CEO Maccabi Tel Aviv, dalam wawancara dengan Basketball Sphere.
Proses Transfer yang Menarik
Shtilman mengungkapkan bahwa Claudio Coldebella, salah satu petinggi klub, menyatakan keinginannya untuk merekrut Madar. "Dengar, kami menginginkan Yam Madar. Saya dan Oded Kattash sangat menginginkan Yam Madar," ujarnya. Ketika ditanya alasan di balik keinginan tersebut, Coldebella menjelaskan bahwa Madar merupakan satu-satunya pemain Israel yang memiliki kemampuan *two-way*, yang berarti ia sangat baik dalam menyerang dan bertahan. "Dari sudut pandang kami, kualitasnya setara dengan pemain asing. Dia adalah sosok pembeda bagi liga Israel, bersama dengan Roman Sorkin, dan tentu saja ini menjadi pukulan psikologis bagi Hapoel Tel Aviv," tambah Shtilman.
Korban yang Diberikan Madar
Shtilman juga menyoroti pengorbanan yang dilakukan oleh Madar untuk mewujudkan kepindahan ini. Madar mengaktifkan klausul *buyout* dari Hapoel dan menolak tawaran yang jauh lebih besar dari klub lain. "Dia bersedia mengorbankan banyak uang dan menunjukkan dirinya sebagai pejuang sejati. Dia ibarat Jalen Brunson bagi Maccabi; dia rela melepas jumlah uang yang sangat besar—sesuatu yang mungkin hampir tidak ada pemain lain yang bersedia melakukannya," jelas Shtilman.
Menurut estimasi Shtilman, Madar merelakan pendapatan bersih sekitar $1,2–1,3 juta per musim demi kesempatan bermain di Maccabi Tel Aviv. Selain itu, Shtilman mengungkapkan bahwa Madar sendiri terlibat langsung dalam negosiasi dengan klub tanpa melibatkan agennya pada tahap akhir diskusi. "Sempat terjadi situasi di mana sang pemain menginginkan angka tertentu sementara manajemen Maccabi menginginkan angka yang lebih rendah, lalu drama pun bermula. Ada pula masalah asuransi terkait cedera kakinya—apakah itu akan ditanggung asuransi atau tidak—serta soal biaya *buyout* yang sudah dia bayarkan kepada Hapoel Tel Aviv; apakah kami akan menggantinya?"
Dia menambahkan, "Pemain itu—seorang pejuang sejati—memutuskan untuk kembali dan menangani sendiri negosiasinya. Dia mengambil langkah untuk tidak melibatkan agennya lagi; itu adalah tindakan paling berani yang bisa dia lakukan karena dia paham betul situasi yang melibatkan semua pihak ini," tutup Shtilman.