Logo
Olahraga Lain

Fabio Wardley Berjuang untuk Mendapatkan Pengakuan di Dunia Tinju

Fabio Wardley, juara dunia kelas berat WBO, merasa perjuangannya untuk mendapatkan respek di dunia tinju belum usai meskipun telah meraih gelar juara.

D
Dharma Kusuma
12 May 2026 18 pembaca
Fabio Wardley Berjuang untuk Mendapatkan Pengakuan di Dunia Tinju
Fabio Wardley mengaku sudah terbiasa menghadapi keraguan publik terhadap dirinya. (Foto: Fight TV)

Fabio Wardley secara resmi menjadi juara dunia kelas berat setelah mendapatkan gelar penuh WBO, menyusul keputusan Oleksandr Usyk untuk melepas sabuk juaranya. Meskipun mencapai puncak kariernya, Wardley merasa bahwa usahanya untuk mendapatkan pengakuan yang layak masih belum selesai.

Wardley menerima sabuk juara dunia bukan di atas ring, melainkan melalui pengiriman koper ke tempat latihannya. Saat membuka koper tersebut, petinju berusia 31 tahun ini menemukan sabuk WBO berwarna emas yang menandakan statusnya sebagai juara dunia baru. Namun, ada kejanggalan pada sabuk tersebut, di mana nama panggilan yang tertera bukanlah miliknya, melainkan "White Rhino", julukan dari petinju Inggris lainnya, Dave Allen. Wardley, yang tidak memiliki julukan resmi, menanggapi situasi ini dengan tenang, mengatakan, “Apa yang harus diributkan? Itu hanya kesalahan manusia.” Setelah insiden tersebut, WBO meminta maaf dan mengirimkan sabuk baru kepada Wardley. Meski demikian, kejadian ini dianggap sebagai simbol dari perjalanan uniknya yang sering kali dipandang sebelah mata.

Pertahanan Gelar Pertama

Akhir pekan ini, Wardley akan melakukan pertahanan gelar pertamanya melawan Daniel Dubois dalam pertarungan kelas berat yang diprediksi akan berlangsung dengan sangat menarik. Wardley memiliki rekor 20 kemenangan, satu hasil imbang, dan 19 kemenangan melalui KO. Perjalanannya menuju puncak dunia tinju terbilang tidak biasa, karena ia hampir tidak memiliki pengalaman amatir sebelum beralih menjadi petinju profesional. Ia bahkan pernah bekerja di kantor sebelum memutuskan untuk fokus penuh di dunia tinju.

Meskipun dianggap kurang memiliki teknik murni seperti petinju elite lainnya, Wardley dikenal karena kekuatan pukulannya. Dalam karier profesionalnya, ia berhasil meraih gelar Inggris dan Inggris Raya sebelum akhirnya menjadi juara dunia WBO. Ia juga menarik perhatian saat mengalahkan David Adeleye dan dua kali menghadapi peraih medali Olimpiade, Frazer Clarke. Pertarungan ulang melawan Clarke berakhir dramatis, di mana Wardley menang KO di ronde pertama, yang menyebabkan lawannya mengalami patah rahang dan tulang pipi. Wardley juga pernah berada di ambang kekalahan saat melawan Justis Huni tahun lalu, namun ia bangkit dengan pukulan tangan kanan yang menjatuhkan lawannya dan memastikan kemenangan.

Perjalanan yang Tidak Biasa

Promotor veteran Frank Warren menyebut perjalanan Wardley sebagai sesuatu yang langka dalam dunia tinju modern. “Tanpa pengalaman amatir, lalu menjadi juara dunia hanya dalam 21 pertarungan, itu luar biasa,” kata Warren. Wardley mengakui bahwa ia sudah terbiasa menghadapi skeptisisme publik terhadap kemampuannya. Ia merasa banyak orang masih ragu bahwa ia bisa mencapai level tertinggi dalam dunia tinju hanya dalam waktu kurang dari 10 tahun. “Saya rasa orang selalu menunggu saya gagal. Tidak pernah ada komentar bahwa saya tampil luar biasa,” ungkap Wardley. Kini, ia kembali memiliki kesempatan untuk membuktikan kemampuannya saat menghadapi Dubois dalam pertarungan yang disebut Warren sebagai salah satu yang paling menarik di kelas berat saat ini.

Artikel Terkait