Floyd Mayweather, legenda tinju dunia, kini terjerat dalam masalah hukum yang berpotensi mengganggu rencana comeback-nya. Perusahaan promotor CSI Sports Events telah mengajukan gugatan di Pengadilan Federal Distrik Selatan New York dengan tuduhan bahwa Mayweather melanggar kontrak eksklusif yang telah disepakati sebelumnya.
Gugatan yang diajukan pada Kamis (18/6) ini meminta pengadilan untuk mengeluarkan perintah permanen yang menghentikan pertarungan ekshibisi antara Mayweather dan Mike Zambidis yang direncanakan berlangsung pada 27 Juni di Yunani. Selain itu, CSI juga mengajukan permohonan darurat berupa injunction agar pertarungan tersebut tidak dapat dilaksanakan.
Pelanggaran Kontrak dan Tuntutan Ganti Rugi
CSI menilai bahwa Mayweather telah melanggar kontrak dengan menyetujui duel melawan Zambidis, sementara perusahaan tersebut memiliki hak eksklusif untuk memproduksi dua pertarungan berikutnya, yaitu melawan Mike Tyson dan Manny Pacquiao yang direncanakan berlangsung tahun ini. Dalam dokumen gugatan, CSI menuntut ganti rugi sebesar 6,65 juta dolar AS kepada Mayweather dan First Apex Ventures, yang disebut sebagai perwakilan bisnis sang petinju dalam negosiasi kontrak.
Pengacara CSI menyatakan bahwa permohonan darurat diajukan karena Mayweather dijadwalkan berangkat ke Yunani pada hari Jumat sebelum pertarungan pekan depan. Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak Mayweather. ESPN melaporkan bahwa pesan yang dikirim kepada perwakilan petinju tersebut belum mendapatkan balasan.
Kesepakatan yang Dipermasalahkan
Gugatan tersebut mengungkapkan bahwa CSI dan First Apex Ventures telah mencapai kesepakatan pada 10 Agustus untuk menggelar duel antara Mayweather dan Mike Tyson pada musim semi 2026. CSI mengklaim telah menyepakati pembayaran sebesar 14 juta dolar AS kepada Mayweather, termasuk uang muka sebesar 2 juta dolar AS. Selanjutnya, kedua pihak juga menandatangani perjanjian eksklusif baru pada bulan November yang mengatur pertarungan setelah duel melawan Tyson.
Dalam kontrak itu, Mayweather dijanjikan bayaran sebesar 35 juta dolar AS jika menghadapi Manny Pacquiao, ditambah 20 persen dari pendapatan siaran pay-per-view. Jika pertarungan tidak menggunakan sistem pay-per-view, ia berhak menerima kompensasi sebesar 50 juta dolar AS. Namun, CSI menuduh Mayweather secara diam-diam menjual hak pertarungan tersebut kepada perusahaan lain, EverWonder.
Menurut gugatan, pada bulan Desember lalu, Mayweather menandatangani kesepakatan baru dengan EverWonder untuk menggelar duel melawan Pacquiao melalui Netflix dengan nilai kontrak mencapai 24,75 juta dolar AS. CSI mengaku telah berupaya mencari solusi bersama EverWonder agar pertarungan Pacquiao tetap dapat berlangsung tanpa melanggar kesepakatan yang ada. Salah satu opsi yang dibahas adalah menggelar duel melawan Tyson terlebih dahulu sebelum laga melawan Pacquiao.
Namun, di tengah proses negosiasi, CSI mengetahui bahwa Mayweather juga telah menyepakati pertarungan melawan Mike Zambidis, yang dianggap melanggar hak eksklusif yang mereka miliki. Gugatan juga mencatat bahwa Mayweather sempat menjalani pemeriksaan medis untuk pertarungan melawan Tyson dan meminta pembayaran tunai sebesar 150.000 dolar AS yang telah dipenuhi oleh CSI. Namun, sehari setelah menerima pembayaran tersebut, Mayweather mengumumkan pertarungan melawan Zambidis.
Situasi semakin rumit ketika Mike Tyson mengalami cedera tangan pada bulan Mei, sehingga duel yang semula dijadwalkan pada 30 Mei harus ditunda. Berdasarkan kontrak, penjadwalan ulang masih diperbolehkan dalam jangka waktu enam bulan sebelum Mayweather diizinkan untuk bertarung lagi. Selain masalah ini, Mayweather juga masih menghadapi beberapa persoalan hukum lainnya, termasuk dua dakwaan pidana terkait dugaan cek kosong senilai 200.000 dolar AS, beberapa gugatan perdata di berbagai negara bagian Amerika Serikat, serta tunggakan pajak kepada Internal Revenue Service (IRS) sebesar 7,2 juta dolar AS.