Naoya Inoue sukses mempertahankan gelar juara sejatinya di kelas junior featherweight setelah mengalahkan Junto Nakatani dengan keputusan angka mutlak dalam pertarungan yang berlangsung di Tokyo Dome pada hari Sabtu, 2 Mei. Ketiga juri memberikan skor 116-112, 115-113, dan 116-112 untuk Inoue di hadapan sekitar 55.000 penonton yang hadir di arena.
Dalam pertarungan tersebut, Inoue menunjukkan performa yang rapi dan efektif, menjaga rekor tak terkalahkannya dengan catatan 33-0, termasuk 27 kemenangan melalui KO. Dengan hasil ini, ia tetap memegang semua sabuk utama di kelas 122 pound, termasuk WBA, WBC, IBF, WBO, serta gelar dari Ring Magazine, yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu petinju terbaik di dunia.
Pertarungan dimulai dengan hati-hati pada ronde-ronde awal, di mana kedua petinju menunjukkan saling menghormati. Intensitas meningkat pada ronde keempat saat Inoue mulai melancarkan serangan lebih agresif melalui jab. Nakatani, yang memiliki rekor 32-1 dengan 24 KO, memberikan respons di ronde kelima dan keenam, bahkan berusaha menekan Inoue di ronde ketujuh dengan kombinasi pukulan yang berupaya mengubah momentum.
Meski demikian, Inoue tetap mampu menjaga ritme dengan pergerakan presisi dan serangan ke tubuh lawan. Instruksi dari pelatih Nakatani, Rudy Hernandez, untuk meningkatkan agresivitas mulai terlihat pada ronde-ronde berikutnya. Namun, Inoue tetap sulit untuk disentuh dan berhasil mencuri poin di ronde-ronde ketat.
Memasuki ronde kesembilan, Nakatani berusaha meningkatkan tekanan, tetapi kesulitan menembus pertahanan Inoue yang solid. Juara bertahan tetap tenang dan mengontrol jalannya pertarungan. Pertarungan sempat terhenti pada ronde ke-10 akibat benturan kepala yang menyebabkan luka di atas mata kiri Nakatani. Meskipun ia melanjutkan pertarungan dengan semangat, darah dari lukanya mulai memengaruhi performanya di dua ronde terakhir.
Inoue memanfaatkan situasi tersebut dengan meningkatkan intensitas serangannya. Pada ronde ke-11, ia berhasil mendaratkan dua uppercut bersih yang semakin menegaskan dominasi di atas ring. Kedua petinju saling bertukar kombinasi pukulan hingga akhir pertarungan, dan saling merangkul sebagai bentuk sportivitas setelah bel penutup berbunyi.
Kemenangan ini semakin memperkuat reputasi Naoya Inoue sebagai petinju elite dunia dan mempertahankan dominasinya di kelas junior featherweight, menjadikannya salah satu pertarungan terbesar dalam sejarah tinju Jepang.