Logo
Berita Olahraga

Perjalanan Catur Nadiv Asadel di Kejuaraan Dunia di Georgia

Nadiv Asadel, pecatur muda asal Indonesia, berpartisipasi dalam FIDE World Cadets Cup 2026 yang berlangsung di Batumi, Georgia. Turnamen ini menjadi momen penting baginya untuk mengukur kemampuan sete...

A
Arka Wisena
21 June 2026 5 pembaca
Pecatur muda asal Indonesia Nadiv Asadel (kiri). (Foto: dok.pribadi)
Pecatur muda asal Indonesia Nadiv Asadel (kiri). (Foto: dok.pribadi)

Batumi - Indonesia kembali menampilkan talenta muda di dunia catur melalui Nadiv Asadel, yang saat ini tengah berjuang di Georgia. Nadiv, yang berasal dari Citra Raya, Tangerang, berpartisipasi dalam FIDE World Cadets Cup 2026 sebagai wakil Indonesia di kategori Open U-12. Bagi Nadiv, kejuaraan ini bukan hanya sekadar kompetisi untuk meraih kemenangan, melainkan juga sebagai kesempatan pertama untuk menguji kemampuan setelah menjalani latihan yang intensif selama hampir dua tahun.

Menurut ayah sekaligus manajer Nadiv, Hendriyanto, "Asadel datang ke sini bukan dengan beban harus juara atau harus medali. Kami ingin dia menikmati permainan. Tapi tentu, sebagai orang tua dan tim pelatih, kami juga ingin melihat hasil latihan selama ini diuji secara objektif melawan pemain-pemain dari berbagai negara." Ini menunjukkan bahwa fokus utama mereka adalah pengalaman dan pembelajaran.

Awal Mula Ketertarikan Catur

Perjalanan Nadiv dalam dunia catur tidak dimulai dengan cara yang biasa. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang sangat aktif dan sulit untuk duduk tenang di meja belajar. Keluarganya memutuskan untuk memindahkannya ke Sekolah Alam Tangerang Mekar Bakti agar ia bisa tumbuh dalam lingkungan yang lebih sesuai dengan karakternya. Hendriyanto menjelaskan, "Dia dulu anak yang tidak bisa diam. Pernah dimasukkan TK, tapi tidak mau masuk kelas. Mainnya di luar terus. Di sekolah alam pun dia sempat perlu guru pendamping karena terlalu aktif. Tapi justru energi itu sekarang berubah menjadi daya tahan fokus di papan catur."

Ketertarikan Nadiv terhadap catur muncul saat ia duduk di kelas 4 SD. Setelah mengalami kekalahan dalam pertandingan catur di sekolah, ia meminta orang tuanya untuk membantunya belajar lebih serius. Dari momen tersebut, perjalanan panjangnya di dunia catur dimulai.

Latihan Intensif dan Persiapan

Pada tahun 2024, Nadiv mulai berlatih di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) di Gading Serpong, di mana bakatnya mulai diperhatikan oleh Grandmaster Sean Winshand. Sejak saat itu, ia menjalani program latihan yang lebih terarah dan privat. Dalam setahun terakhir, intensitas latihannya semakin tinggi, termasuk berlatih teori dengan GM Sean Winshand serta melakukan sparring dan analisis bersama IM Muhammad Ervan dan IM Farid Firmansyah. Di luar sesi latihan, Nadiv juga meluangkan waktu untuk belajar secara mandiri, membaca buku catur, berlatih endgame, dan bermain online. Hendriyanto menambahkan, "Dia justru senang kalau waktunya latihan. Ketemu coach itu dia semangat. Kami sebagai orang tua hanya menjaga agar proses ini tetap menyenangkan dan tidak berubah menjadi tekanan."

Di Batumi, Nadiv menghadapi lawan-lawan dengan rating internasional. Pada beberapa babak awal, ia berhadapan dengan pemain dari Eropa dan Asia, termasuk lawan dari Korea Selatan, Taiwan, dan Jerman. Hendriyanto menyatakan bahwa pengalaman ini sangat berharga untuk mengukur kemampuan Nadiv. "Rating FIDE itu menurut saya alat ukur yang fair. Yang dihitung hasil pertandingan dan rating lawan. Jadi apa pun hasil akhirnya nanti, itulah gambaran posisi Asadel saat ini. Dari situ kami bisa menyusun peta latihan berikutnya," jelasnya.

Keluarga Nadiv tidak terburu-buru dalam mengejar gelar. Setelah turnamen di Georgia, mereka berencana untuk mengevaluasi semua pertandingan untuk menyusun program latihan selama satu tahun ke depan. Rencananya, Nadiv akan mengikuti turnamen internasional secara berkala sebelum menghadapi ujian akhir di Serbia pada Juni 2027.

Hendriyanto berharap agar tidak hanya Nadiv yang sukses, tetapi juga catur Indonesia dapat memiliki ekosistem pembinaan junior yang lebih baik. "Anak-anak Indonesia punya potensi besar, tinggal bagaimana kita membangun jalannya dengan sabar," ujarnya. Nadiv sendiri merasa senang bisa merasakan atmosfer kejuaraan dunia dan menikmati kesempatan untuk bertemu dengan lawan dari berbagai negara serta belajar dari setiap pertandingan. "Saya senang bisa main di sini. Lawannya kuat-kuat. Saya mau main sebaik mungkin dan belajar dari setiap game," ungkapnya.

Bagi Hendriyanto, keberangkatan Nadiv ke Georgia merupakan pencapaian tersendiri. Namun, lebih dari itu, turnamen ini menandai awal baru bagi Nadiv, yang dulunya sulit untuk duduk tenang di kelas, kini belajar untuk duduk berjam-jam di papan catur, membaca posisi, mengambil keputusan, dan membangun mimpinya secara bertahap. "Yang penting dia bahagia bermain catur. Kalau prosesnya dijaga, saya percaya hasil baik akan datang," tutup Hendriyanto.

Artikel Terkait