Logo
Berita Olahraga

Tantangan MotoGP dalam Mengadopsi Kesuksesan Formula 1

Paolo Campinoti, bos Pramac Yamaha, mengungkapkan bahwa MotoGP tidak dapat sepenuhnya meniru kesuksesan Formula 1 dalam pengembangan bisnis olahraga. Ia menekankan adanya aspek yang sulit untuk direpl...

S
Surya Kirana
03 August 2026 10 pembaca
Foto: Getty Images/Gold & Goose Photography
Foto: Getty Images/Gold & Goose Photography

Jakarta - Paolo Campinoti, yang menjabat sebagai bos Pramac Yamaha, berpendapat bahwa MotoGP tidak dapat meniru sepenuhnya keberhasilan Formula 1 dalam mengembangkan bisnis olahraga. Ia menyatakan bahwa terdapat satu elemen yang dianggap "mustahil" untuk diadaptasi oleh MotoGP.

Dalam beberapa tahun terakhir, Formula 1 telah mengalami perkembangan yang signifikan, tidak hanya sebagai ajang balap terkemuka di dunia, tetapi juga sebagai salah satu olahraga dengan nilai komersial yang sangat tinggi. Keberhasilan ini didorong oleh kemampuannya menarik perhatian penonton yang lebih muda dan beragam, serta menciptakan pengalaman premium bagi para penggemar. Campinoti mengakui bahwa karakter penonton Formula 1 kini berbeda dibandingkan dengan MotoGP.

Perbedaan Penonton antara F1 dan MotoGP

"Formula 1 saat ini memiliki penonton yang berbeda dengan kami," ungkap Campinoti dalam podcast Mig Babol yang dipandu oleh Andrea Migno. Ia menambahkan, "F1 sudah bergeser sepenuhnya ke segmen premium, sehingga masih ada banyak ruang bagi kami untuk menempatkan MotoGP pada posisi yang lebih baik."

Meski begitu, Campinoti menilai bahwa MotoGP tidak realistis jika ingin mengikuti jejak Formula 1 hingga mencapai level yang sama. Ia menjelaskan bahwa di Formula 1, tiket Paddock Club dapat dijual dengan harga lebih dari 15 ribu euro, yang setara dengan sekitar Rp 284 juta (dengan kurs sekitar Rp 18.900 per euro). "Itu bukan langkah yang tepat, dan mustahil mencapai level seperti itu. Tetapi kami tentu bisa bergerak sedikit ke arah sana," ujarnya.

Strategi MotoGP dalam Meningkatkan Pendapatan

Campinoti juga menyoroti bahwa strategi MotoGP dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak berfokus pada efisiensi biaya. Berbagai kebijakan telah diterapkan, seperti penggunaan satu pemasok ban, sistem elektronik standar, pengurangan sesi latihan, hingga pemangkasan jadwal di kelas Moto2 dan Moto3. Namun, ia berpendapat bahwa pendekatan tersebut tidak akan membawa perubahan yang signifikan.

"Untuk meningkatkan pendapatan, kami perlu melakukan sesuatu yang sedikit lebih... sulit dijelaskan, tetapi lebih menarik," katanya. "Kalau kita terus bicara menghemat 100 euro untuk biaya transportasi, silakan saja. Memang ada penghematan. Tetapi perubahan yang sesungguhnya datang dari peningkatan pendapatan, bukan dari memangkas biaya."

Pernyataan Campinoti ini muncul di tengah tahun pertama MotoGP di bawah kepemilikan Liberty Media, perusahaan yang juga memiliki Formula 1. Di bawah kepemilikan Liberty Media, Formula 1 berhasil memperluas pasar global dan meningkatkan nilai komersialnya secara signifikan. Di sisi lain, Campinoti menilai bahwa MotoGP harus menemukan jalannya sendiri, bukan hanya meniru model bisnis Formula 1.

Artikel Terkait