Logo
Berita Olahraga

Yogyakarta: Tantangan Pebalap Tanpa Sirkuit Resmi

Yogyakarta dikenal sebagai pusat pebalap berbakat Indonesia, namun tidak memiliki sirkuit yang memadai untuk latihan. Hal ini menjadi perhatian serius bagi perkembangan olahraga balap di daerah terseb...

E
Eko Prasetyo
16 June 2026 6 pembaca
Veda Ega Pratama butuh sirkuit di Yogyakarta. (Foto: Dok. motogp.com)
Veda Ega Pratama butuh sirkuit di Yogyakarta. (Foto: Dok. motogp.com)

Yogyakarta telah lama menjadi tempat lahirnya banyak pebalap nasional yang kini telah menembus kancah internasional. Namun, ada ironi yang menyertai kota ini, yaitu tidak adanya sirkuit yang layak untuk mendukung latihan mereka. Di antara pebalap yang berasal dari Yogyakarta, terdapat nama-nama seperti Doni Tata Pradipta, Galang Hendra, Veda Ega Pratama, Aldi Satya Mahendra, dan Kiandra Ramadhipa, yang telah mencatatkan prestasi di tingkat dunia. Veda Ega bahkan menjadi pebalap Indonesia pertama yang berhasil meraih podium di ajang GP, dengan podium ketiga di Moto3 GP Brasil dan podium di MotoGP Prancis.

Kiandra Ramadhipa juga menunjukkan prestasi yang mengesankan di Red Bull Rookies Cup 2026, di mana ia berhasil meraih juara meski memulai balapan dari posisi ke-17. Dalam ajang FIM Moto3 Junior World Championship 2026 di Estoril, Portugal, ia juga berhasil menjadi pemenang di race kedua. Aldi Satya Mahendra pun tidak kalah, dengan prestasi finis ketiga di Sirkuit Buriram pada tahun lalu, dan podium kedua di seri selanjutnya. Pada tahun ini, Aldi juga meraih podium ketiga di WSSP Superbike di Italia.

Kekhawatiran Tanpa Sirkuit Permanen

Meski prestasi pebalap asal Yogyakarta terus bermunculan, ada keprihatinan yang mendalam terkait kurangnya fasilitas latihan yang memadai. Pernyataan Veda Ega yang viral di media sosial menyoroti kondisi ini, di mana ia mengungkapkan, "Wah, ternyata saya walaupun latihan di pasar sapi bisa sampai di sini ya." Di Yogyakarta, tidak ada sirkuit permanen yang memadai, dan para pebalap biasanya berlatih di lapangan parkir Stadion Mandala Krida atau lahan parkir Pasar Hewan Siyono, yang hanya ditandai dengan ban bekas sebagai jalur balap.

Pentingnya Sirkuit untuk Pembinaan

Ketersediaan sirkuit latihan sangat krusial untuk pengembangan pebalap. Jika Indonesia ingin melahirkan lebih banyak pebalap kelas dunia, maka pembangunan trek balap menjadi hal yang wajib. Tentu saja, untuk mewujudkan sirkuit di Yogyakarta dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini menjadi perhatian dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI DIY, Wesley Heince Parera Tauntu, menyatakan bahwa sudah ada informasi mengenai lokasi yang disiapkan untuk pembangunan sirkuit, yang kemungkinan berada di daerah Ratu Boko, dekat Prambanan. Wesley berharap, "Harapannya memang perlu dukungan dari semua pihak untuk bisa merealisasikan sirkuit yang permanen untuk teman-teman balap di DIY."

Dengan adanya fasilitas yang memadai, bukan tidak mungkin lebih banyak pebalap berbakat seperti Veda dan Ramadhipa akan muncul dari Yogyakarta. Saat ini, kedua pebalap tersebut merupakan hasil binaan dari Astra Honda Racing School. Jika sirkuit dibangun, maka tidak akan ada lagi cerita pebalap dunia yang berasal dari 'sirkuit' parkiran pasar hewan. Kerja sama antara pemerintah daerah dan pihak swasta perlu ditingkatkan untuk mewujudkan hal ini.

Ramadhipa menyambut baik kabar mengenai pembangunan sirkuit di Yogyakarta dan berharap agar proyek tersebut segera terwujud. Meskipun saat ini ia lebih banyak berada di Eropa untuk mengikuti balapan, ia merasa bahwa keberadaan sirkuit di Yogyakarta akan sangat membantunya dalam berlatih. "Saya merasa senang kalau ada sirkuit tentunya. Itu membantu saya, fasilitasnya semakin tercukupi. Ya, semoga saja itu terealisasi," ungkap Ramadhipa saat diwawancarai.

Artikel Terkait