Setelah lebih dari satu dekade, tim bulu tangkis putri Malaysia akhirnya akan kembali berkompetisi di Asian Games, yang akan diselenggarakan di Jepang tahun ini. Selama 12 tahun terakhir, mereka dianggap belum siap untuk mengikuti nomor beregu, namun pelatih kepala ganda putri, Rosman Razak, menyambut baik kembalinya tim ini sebagai langkah positif untuk perkembangan olahraga di negara tersebut.
Rosman Razak berharap partisipasi ini dapat mempercepat proses pengembangan para pemain muda Malaysia. Awalnya, Badan Bulu Tangkis Malaysia (BAM) ragu untuk mengirimkan tim putri ke Asian Games Aichi-Nagoya 2026, tetapi Rosman bersama pelatih lainnya berhasil meyakinkan manajemen bahwa para pemain layak mendapatkan kesempatan tersebut.
Pengalaman Berharga untuk Pemain Muda
Meskipun Rosman mengakui bahwa Malaysia mungkin bukan salah satu tim terkuat dalam kompetisi ini, ia percaya bahwa pengalaman yang didapat akan sangat berharga bagi skuad yang sebagian besar terdiri dari pemain berusia di bawah 22 tahun. Hanya ada dua pemain dalam tim yang memiliki pengalaman sebelumnya di ajang ini, yaitu pasangan ganda putri peringkat 5 dunia, Pearly Tan-M. Thinaah dan Shevon Lai Jemie. Pemain lainnya, termasuk pasangan ganda Noraqilah Maisarah Ramdan-Low Zi Yu, Cheng Su Hui, serta pemain tunggal K. Letshanaa, Wong Ling Ching, Oo Shan Zi, dan Eng Ler Qi, akan menjalani debut mereka.
"Saya rasa kita harus berterima kasih kepada manajemen BAM karena awalnya, saya rasa kita tidak akan mengirim tim wanita," ungkap Rosman. "Namun, para pelatih tidak ingin mereka tertinggal. Zi Yu masih junior, jadi ini akan menjadi pengalaman yang baik baginya dan kesempatan untuk merasakan kompetisi di level ini."
Optimisme Pasca Penampilan di Piala Uber
Rosman menambahkan, "Saya rasa semua orang di tim putri sangat senang dengan keputusan yang dibuat oleh manajemen, termasuk Datuk Seri Lee Chong Wei." Terakhir kali Malaysia berpartisipasi di nomor beregu putri pada Asian Games adalah pada tahun 2014 di Incheon, di mana mereka berhasil mencapai perempat final sebelum kalah dari China. Mereka tidak ikut serta dalam dua edisi berikutnya di Jakarta-Palembang pada tahun 2018 dan Hangzhou pada tahun 2022 karena BAM merasa skuad tersebut belum cukup kuat untuk bersaing memperebutkan medali.
Kepercayaan diri tim putri kini meningkat setelah penampilan mereka yang menggembirakan di Final Piala Uber di Horsens pada bulan April, di mana mereka mengakhiri penantian selama 16 tahun untuk mencapai perempat final. "Asian Games hanya datang sekali setiap empat tahun, hampir seperti Olimpiade, dan saya pikir para pemain muda harus memanfaatkannya sebaik mungkin," tutup Rosman.