Keterpurukan Yamaha di ajang MotoGP kini mulai berdampak pada hubungan mereka dengan jaringan dealer. Carlo Pernat, mantan manajer dan pengamat MotoGP, mengungkapkan bahwa dealer Yamaha dan Honda di berbagai negara mulai mempertanyakan performa tim setelah pabrikan Jepang tersebut terancam finis di posisi terbawah.
Yamaha sedang menghadapi tantangan besar di MotoGP 2026. Setelah meluncurkan mesin V4 sebagai bagian dari strategi pengembangan baru, mereka masih kesulitan untuk bersaing dengan tim-tim seperti Aprilia dan Ducati. Sampai dengan 12 dari 22 seri yang berlangsung musim ini, tim yang berbasis di Iwata ini hanya berhasil mengumpulkan 73 poin di klasemen konstruktor, yang menempatkan mereka di posisi paling bawah dan berpotensi mengakhiri musim sebagai pabrikan dengan performa terburuk.
Tekanan dari Dealer Global
Kondisi ini menarik perhatian dari jaringan dealer mereka di seluruh dunia. Pernat menjelaskan bahwa buruknya performa di MotoGP memberikan tekanan kepada Yamaha dan Honda. "Saya tahu bahwa Yamaha dan Honda mendapat tekanan dari para dealer mereka, dari pengecer di seluruh dunia. Saya pikir mereka akan bereaksi," ungkap Pernat kepada Gazzetta dello Sport.
Hubungan antara kesuksesan di balapan dan citra merek sangat erat, dan hal ini menjadi perhatian serius bagi Yamaha. Tim berlogo Garpu Tala ini belum meraih kemenangan di MotoGP sejak Fabio Quartararo memenangkan MotoGP Jerman pada tahun 2022. Selama beberapa tahun terakhir, dominasi mereka juga semakin menurun, dengan hanya satu kemenangan dan sepuluh podium sejak tahun 2023.
Perubahan yang Belum Berhasil
Pernat menilai situasi ini sulit dipahami mengingat sumber daya besar yang dimiliki oleh kedua pabrikan Jepang tersebut. Mereka bahkan melakukan perubahan signifikan dengan meninggalkan mesin inline four untuk beralih ke mesin V4. Namun, perubahan ini belum menunjukkan peningkatan yang berarti.
Fabio Quartararo sebelumnya menyatakan bahwa timnya belum berhasil membuat kemajuan signifikan dalam pengembangan motor V4. "Ketika memulai proyek baru, biasanya langkah awal sangat besar. Setelah itu, semakin sulit menemukan sepersepuluh detik terakhir. Namun, kami tidak pernah benar-benar membuat lompatan besar dari motor baru menuju motor yang hampir satu tahun lebih matang," kata Quartararo kepada Crash.net.
Meski menghadapi tantangan, tim Yamaha menegaskan bahwa partisipasi mereka di MotoGP bukan hanya untuk meningkatkan penjualan sepeda motor. Managing Director, Paolo Pavesio, menyatakan bahwa MotoGP tetap penting untuk membangun citra merek, mengembangkan teknologi, dan meningkatkan kemampuan para insinyur. "Kami sebagai pabrikan terlibat dalam motorsport untuk terhubung dengan penggemar dan pada akhirnya menjual sepeda motor," jelas Pavesio.
Dengan regulasi baru yang akan diterapkan pada tahun 2027, Yamaha berharap proyek mesin V4 dapat menunjukkan kemajuan yang signifikan sebelum memasuki era baru MotoGP.