Marc Marquez, pembalap asal Spanyol yang dikenal sebagai salah satu yang terhebat di MotoGP, memiliki rekor kemenangan terbanyak dalam sesi Sprint Race. Namun, ia mengungkapkan rasa bencinya terhadap format balapan singkat ini. Marquez merasa bahwa Sprint Race sangat menguras emosi dan membuat gaya balapnya lebih mudah diprediksi oleh para pesaing.
Perdebatan Seputar Format Sprint Race
Format Sprint Race yang resmi diperkenalkan sejak musim 2023 telah memicu banyak perdebatan di kalangan pembalap dan penggemar. Meskipun beberapa pihak mengeluhkan jadwal yang padat pada akhir pekan balapan, Marquez memiliki alasan tersendiri mengapa ia tidak menyukai balapan yang diadakan pada hari Sabtu tersebut. Sejak bergabung dengan pabrikan Ducati, Marquez menunjukkan performa yang sangat dominan, terutama dalam sesi Sprint. Kemenangan terbarunya di MotoGP Jepang di Sirkuit Motegi semakin memperkuat posisinya sebagai raja balapan pendek dengan total 22 kemenangan Sprint, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Jorge Martin dan rekan setimnya, Francesco Bagnaia.
Alasan Kebencian Marquez terhadap Sprint Race
Dalam wawancara dengan media Diario AS, Marquez secara terbuka menyatakan bahwa Sprint Race justru mengekspos keunggulan utamanya. "Insting adalah titik kuat saya. Itulah mengapa saya sangat membenci hari Sabtu, karena hari Sabtu adalah tentang insting," ujarnya. Ia merasa bahwa tindakan agresifnya pada hari Sabtu menjadi pelajaran bagi para pesaingnya. "Hari Minggu sekarang lebih berulang, bukan? Awalnya sama, rival MotoGP belajar, lalu mereka menyamai Anda, dan Anda harus mengelolanya dengan cara berbeda," tambahnya.
Marquez juga menyoroti masalah kelelahan emosional yang dialaminya sepanjang akhir pekan balapan. "Secara fisik, kami dilatih mengendarai motor, dan tes seperti di Malaysia lebih berat. Namun, di sini adrenalin naik turun. Ada lonjakan saat kualifikasi, lalu turun, sprint, turun lagi, dan besok balapan utama Anda harus naik lagi," jelasnya. Ia menekankan bahwa puncak emosi yang tinggi dapat menyebabkan penurunan performa setelah momen euforia. "Kami mencoba menjaga performa sekonsisten mungkin," ungkapnya.
Mengenai strategi kemenangannya di Motegi, Marquez menegaskan bahwa kemenangannya bukan hanya karena keberuntungan di awal lomba. "Hari ini pengereman di tikungan pertama memang penting, tapi saya tidak menang di sana. Hari ini saya punya kecepatan untuk menyerang di akhir. Memang benar, memimpin sejak awal membuat segalanya sedikit lebih mudah," tutupnya.