Tim Ducati tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan di Grand Prix Indonesia yang berlangsung akhir pekan ini. Manajer tim, Davide Tardozzi, menyampaikan bahwa kehilangan poin hingga 12 mungkin masih dapat diterima. Pernyataan ini ditujukan kepada pebalap utama mereka, Marc Marquez, yang saat ini bersaing dalam perebutan gelar juara dunia, meskipun catatan performanya di Sirkuit Mandalika tidak begitu menggembirakan.
Performa Ducati di Mandalika
Tardozzi secara terbuka mengakui bahwa Ducati GP26 mungkin tidak sepenuhnya cocok dengan karakteristik sirkuit Mandalika, terutama setelah melihat performa motor lain, seperti Aprilia, yang lebih unggul. Dalam wawancaranya dengan TNT Sports setelah Grand Prix Jepang, di mana Marquez berhasil meraih poin maksimal, Tardozzi menyatakan, "Mandalika tidak cocok dengan motor kami."
Ketika ditanya tentang hasil yang dianggap baik di Indonesia, Tardozzi memberikan angka konkret: "Saya pikir kehilangan 10 hingga 12 poin bisa dianggap tidak buruk." Meski demikian, ia menekankan bahwa tujuan utama mereka adalah meraih kemenangan.
Harapan di Grand Prix Indonesia
Meskipun Ducati berupaya keras untuk meraih kemenangan di Indonesia, Marquez belum pernah menyelesaikan balapan MotoGP di sirkuit tersebut. Mandalika juga menjadi lokasi insiden serius yang melibatkan Marco Bezzecchi, yang berdampak pada musim Marquez di tahun 2025. Tahun lalu, tim Ducati mengalami kesulitan menunjukkan kecepatan di Mandalika, meskipun Francesco Bagnaia datang dari akhir pekan yang dominan di Jepang. Marquez bahkan hanya mampu lolos kualifikasi di posisi sembilan.
Namun, ada harapan dengan kemenangan Fermin Aldegeuer dari tim Gresini di Grand Prix Indonesia tahun lalu, meskipun Bezzecchi dari Aprilia lebih difavoritkan sebelum mengalami kecelakaan. Marquez kini berusaha mengejar ketertinggalan dua poin dari Jorge Martin, yang saat ini membalap untuk tim pabrikan Aprilia. Tardozzi meyakini bahwa jika ada seseorang yang mampu meraih hasil terbaik di Indonesia, meskipun akhir pekan ini akan sulit, itu adalah Marc Marquez. "Pada akhirnya, dia adalah pemimpin," ungkap Tardozzi. "Dia pemimpin di dalam garasi. Dia tahu cara mendorong orang dan cara mendapatkan dukungan dari tim."